Bahaya Berbicara Tanpa Ilmu

4 Feb

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Bahaya Berbicara Tanpa Ilmu

Segala puji kita haturkan kepada Allah Subhana wa Ta’ala Dzat Yang Maha Hikmah dan ilmuNya meliputi segala sesuatu. Sholawat serta salam semoga senantiasa terhatur kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, kepada, istri-istri, keluarga, sahabat dan umat beliau.

Sering kita lihat di pinggir jalan, di perkantoran dan di tempat-tempat umum lainnya sebagian orang gemar membicarakan masalah agama tanpa di dasari ilmu. Tak sedikit dari orang semisal ini yang mengatakan, ‘kayaknya’, ‘menurut saya’, dan lain sebagainya yang menunjukkan sebenarnya yang berbicara sedang berbicara tanpa ilmu.

Untuk itulah pada kesempatan kami ini sampaikan beberapa ayat atau hadits yang menunjukkan bahayanya berbicara tanpa ilmu tentang agama Allah Subhana wa Ta’ala. Hal ini kami sampaikan agar kita menjaga lisan kita dari hal yang demikian.

 Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقُولُوا لِمَا تَصِفُ أَلْسِنَتُكُمُ الْكَذِبَ هَذَا حَلَالٌ وَهَذَا حَرَامٌ لِتَفْتَرُوا عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ إِنَّ الَّذِينَ يَفْتَرُونَ عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ لَا يُفْلِحُونَ

“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung”. (QS. An Nahl [16] : 116).

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan berkaitan dengan ayat ini,

ويدخل في هذا كل من ابتدع بدعة ليس له فيها مستند شرعي، أو حلل شيئا مما حرم الله، أو حرم شيئا مما أباح الله، بمجرد رأيه وتشهِّيه.

“Termasuk dalam hal ini orang yang membuat-buat bid’ah dalam perkara agama yang tidak ada landasan syar’inya, atau menghalalkan hal yang Allah haramkan atau mengharamkan sesuatu yang Allah mubahkan semata-mata berdasarkan akal pikirannya semata”[1].

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

إِنَّ الله لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ وَلكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً، فَسُئِلُوا، فَأَفْتَوْا بغَيْرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidaklah mencabut ilmu itu secara tiba-tiba dengan mencabutnya dari hamba-hambanya akan tetapi Allah mencabut ilmu itu dengan mencabut/mewafatkan para ulama hingga tidak ada lagi orang yang berilmu. Sehingga manusia menggambil pemimpin bodoh. Sehingga mereka ditanya dan berfatwa tanpa ilmu sehingga mereka sesat dan menyesatkan”[2].

Dalam riwayat lain disebutkan,

فَيُفْتُون برأيهم ، فَيَضِلُّون ويُضِلُّون

“Maka mereka berfatwa dengan (semata-mata) akal mereka sehingga mereka sesat dan menyesatkan”[3].

‘Abdullah bin Mas’ud Rodhiyallahu ‘anhu pernah mengatakan,

حدثنا وكيع، عن الأعمش، عن مسلم، عن مسروق، عن عبد الله، قال: أيها الناس مَن سئل عن علم يعلمه فليقل به، ومَن لم يكن عنده علم فليقل: الله أعلم؛ فإن من العلم أن يقول لما لا يعلم: الله أعلم، إن الله تبارك وتعالى قال لنبيه, صلى الله عليه وسلم: {قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ} [ص: 86].

Waki’ telah mengabarkan kepada kami dari A’masy dari Muslim dari Masyruq dari ‘Abdullah, Dia berkata,

“Wahai manusia, barangsiapa diantara kalian ditanya tentang suatu ilmu maka hendaklah ia menjawabnya dengan ilmu yang ada padanya. Dan barangsiapa yang tidak ada pada dirinya ilmu maka hendaklah ia mengatakan, ‘Allahu a’lam”. Karena perkataan ‘Allahu a’lam’ terhadap permasalahan yang ilmunya tidak ada pada dirimu merupakan sebagian dari ilmu itu sendiri. Sesungguhnya Allah Subhana wa Ta’ala telah berfirman kepada Nabi Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ

“Katakanlah (Wahai Muhammad), “Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas da’wahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan”. (QS. Shood [38] : 86).”[4].

Sebagai penutup kami sampaikan bahwa diantara salah satu cirri-ciri kekhususan Ahlu Sunnah wal Jama’ah adalah mengatakan Allahu a’lam terhadap perkara-perkara yang kita tidak tahu. Bahkan lebih jauh lagi Ath Thohawi Rohimahullah mencantumkan masalah ini dalam kitabnya yang masyhur ‘Aqidah Thohawiyah’. Beliau mengatakan,

ونقول: الله أعلم، فيما اشتبه علينا علمه

“Kami (Ahlu Sunnah wal Jama’ah) mengatakan, ‘Allahu a’lam terhadap perkara yang samar bagi kami”.

Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan hafidzahullah menjelaskan apa yang disampaikan Ath Thohawi Rohimahullah,

هذه مسألة عظيمة، وهي مسألة العلم فالإنسان لا يقول ما لا يعلم، إن علم شيئاً قال به، وإن جهل شيئاً فلا يقول به، ولا يقول في أمور الدين والعبادات ولا يدخل فيها بغير علم، بل يتوقف، ويقول: الله أعلم.

“Hal ini merupakan pembahasan yang agung yaitu seputar ilmu. Seseorang hendaklah ia tidak berbicara tentang sesuatu yang ia tidak memiliki ilmu tentangnya. Jika dia mengetahui sesuatu tentangnya hendaklah ia berbicara sebatas keilmuannya namun apabila ia tidak mengetahuinya maka hendaklah ia tidak mengatakan sesuatu tentangnya. Tidak boleh berbicara dalam masalah agama tanpa ilmu namun hendaklah ia diam dan mengatakan ‘Allahu a’lam”.

Beliau melanjutkan,

والإمام مالك إمام دار الهجرة، جاءه رجل فسأله عن أربعين مسألة، فأجاب عن أربع منها، وقال في الباقي: لا أدري، فقال الرجل: أنا جئتك من كذا وكذا على راحلتي وتقول: لا أدري؟ قال له الإمام: اركب راحلتك، وارجع إلى البلد الذي جئت منه، وقل: سألت مالكاً فقال: لا أدري!!

“Imam Malik Rohimahullah, Imam Darul Hijroh. Suatu ketika seorang laki-laki datang menemuinya dan menanyakan 40 pertanyaan, Imam Malik hanya menjawab 4 pertanyaan dan memberikan jawaban untuk sisanya dengan ucapan ‘Saya tidak tahu’. Sehingga si penanya mengatakan, ‘Aku datang dari daerah ini dan menempuh perjalan jauh untuk menemuimu sedangkan engkau hanya menjawab pertanyaanku dengan ucapan ‘Saya tidak tahu?’ Lalu Imam Malik menjawab, ‘Kendarailah tungganganmu kembalilah ke daerah asalmu katakanlah kepada mereka yang bertanya, ‘aku telah bertanya kepada Imam Malik dan dia menjawab ‘Saya tidak tahu’”.

Beliau melanjutkan,

والنبي صلى الله عليه وسلم إذا سئل عن شيء لم ينزل عليه فيه وحي فإنه ينتظر حتى ينزل عليه وحي، كذلك الصحابة إذا سألهم رسول الله صلى الله عليه وسلم عن شيء لا يعلمونه قالوا: “الله ورسوله أعلم”، لا يتخرصون. فهذا الباب عظيم وخطير، والله عز وجل جعل القول عليه بغير علم مرتبة فوق الشرك به سبحانه وتعالى : (قل إنما حرم ربي الفواحش ما ظهر منها وما بطن والإثم والبغي بغير الحق وأن تشركوا بالله ما لم ينزل به سلطاناً وأن تقولوا على الله ما لا تعلمون) [الأعراف:33]، وقال سبحانه: (ولا تقف ما ليس لك به علم إن السمع والبصر والفؤاد كل أولئك كان عنه مسئولاً) [الإسراء:36].

يا أخي، يسعك أن تقول: لا أدري، ومن قال: لا أدري، فقد أجاب، ولا تتخرص وتخوض في أحكام الشرع بغير بصيرة، وقول: لا أدري، فيما لا تعلم، ليس نقصاً فيك، بل العكس، هو كمال؛ لأنه ورع وتقوى، والناس يحمدونك على هذا

“Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam jika ditanyai tentang sesuatu yang belum turun wahyu atasnya maka beliau menunggu sampai turunnya wahyu. Demikian juga para sahabat jika Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bertanya kepada mereka tentang hal yang mereka tidak ketahui maka mereka akan menjawab dengan mengatakan, ‘Allahu a’lam’ dan tidak berkata-kata sesuatu tanpa ilmu. Ini adalah pembahasan yang amat agung dan penting. Allah ‘Azza wa Jalla menjadikan dosa berbicara tentang agama Nya tanpa ilmu berada di atas dosa mensekutukannya (kesyirikan)[5]. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Katakanlah, “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (QS. Al A’raf [7] : 33).[6]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai ilmu tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya”.(QS. Al Isro’ [17] : 36).

Wahai saudaraku berusahalah engkau untuk mengatakan, ‘aku tidak tahu’. Barangsiapa yang mengatakan, ‘aku tidak tahu’ maka sungguh ia telah memberikan jawaban. Janganlah mengatakan sesuatu tanpa ilmu tentang hukum-hukum syari’at tanpa ilmu. Perkataan ‘aku tidak tahu’ terhadap hal yang kita tidak ketahui bukanlah menunjukkan kurangnya dirimu bahkan sebaliknya, ini merupakan sikap sempurna karena hal merupakan sikap waro’ dan taqwa serta orang lain akan memuji sikap ini”[7].

Mudah-mudahan bermanfaat bagi kita dan dapat menjadi renungan bagi kita dalam menambah sikap ke hati-hatian dalam berbicara tentang Agama Allah ‘Azza wa Jalla.

Aditya Budiman bin Usman (Semoga Allah menjauhkan kami dari api neraka)



[1] Lihat Tafsir Ibnu Katsir hal. 609/IV terbitan Dar Thoyyibah.

[2] HR. Bukhori no. 100 dan Muslim no. 2673.

[3] HR. Bukhrori no. 7307.

[4] Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadlih no. 822 karya ‘Umar Yusuf bin ‘Abdil Barr terbitan Dar Ibnu Hazm

[5] Sisi pendalilannya sebagaimana pernah disampaikan guru kami Ustadz Aris Munandar hafidzahullah pada ayat tersebut Allah mengurutkan dosa dari yang terkecil hingga yang paling besar. Allahu a’lam.

[6] Sebutkan sisi pendalilannya

[7] Lihat At Ta’liqoot Al Mukhtasoroh ‘ala Matni Al Aqidah Ath Thohawiyah hal. 182-183 terbitan Darul Ashimah, Riyadh, KSA.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply