Ayahku I Love You

22 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Ayahku I Love You

Segala puji hanya kembali dan milik Allah Tabaroka wa Ta’ala, hidup kita, mati kita hanya untuk menghambakan diri kita kepada  Dzat yang tidak membutuhkan sesuatu apapun dari hambanya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah, Muhammad bin Abdillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam, beserta keluarga dan para sahabat beliau radhiyallahu ‘anhum.

Ketika terdengar kalimat ‘berbakti kepada orang tua’ di telinga kita, tak ayal lagi bagi sebagian besar kita mungkin yang terbersik adalah berbakti kepada ibu. Hal ini sangatlah wajar karena biasanya ibulah yang paling dekat dengan seorang anak. Bahkan banyak hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang menyebutkan keutamaan khusus berbakti kepada ibu. Saudara kami yang mulia telah menggoreskan kumpulan ayat dan hadits yang berhubungan dengan bakti kepada ibu. Silakan klik di sini (https://www.alhijroh.com/adab-akhlak/ibu-aku-mencintaimu/ ).

Namun ada hal yang kadang kita terlupa bahwa ayahpun tak kalah harusnya kita berbakti kepadanya. Pada kesempatan kali ini kami akan mengetengahkan sedikit pembahasan seputar masalah ini.

Sebagaimana hal yang telah kita ketahui bersama apabila ada hal yang disebutkan berulang-ulang dalam banyak tempat maka hal ini menunjukkan betapa pentingnya perkara tersebut. Demikian juga apabila ada sebuah hal yang selalu digandengkan dengan suatu hal yang sangat agung maka hal itu juga menunjukkan betapa pentingnya hal yang digandengkan tersebut.

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua”. [QS. An Nisa’ (3) : 36]

Demikian juga dalam ayat yang lain,

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tuamu”. [QS. Al An’am (6) : 36]

Dalam ayat yang lain,

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Robbnu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada kedua orang tua”. [QS. Al Isro’ (17) : 23]

Dalam tempat yang lain,

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu), “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada kedua orang tua”. [QS. Al Baqoroh (2) : 83]

Dari sekian banyak ayat yang kami sampaikan di atas, telihat jelas oleh kita betapa besarnya hal kedua orang tua atas kita anak-anaknya.

Abul Fida’ ‘Isma’il bin ‘Umar bin Katsir Rohimahullah yang ma’ruf dikenal dengan Ibnu Katsir menyebutkan dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan Surat Al Baqoroh ayat 83 di atas,

وهذا هو أعلى الحقوق وأعظمها، وهو حق الله تعالى، أن يعبد وحده لا شريك له، ثم بعده حق المخلوقين، وآكدهم وأولاهم بذلك حق الوالدين، ولهذا يقرن الله تعالى بين حقه وحق الوالدين

“Ini (tauhid kepada Allah) adalah hak tertinggi dan teragung yaitu hak Allah Ta’ala hanya menyembah-Nya semata dan tidak menserikatkannya/menyekutukannya dengan suatu apapun. Kemudian setelah itu barulah hak-hak makhluk. Hak makhluk yang paling ditekankan dan utama adalah hak kedua orang tua. Oleh karena agungnya hak kedua orang tualah, Allah gandengkan penyebutan hak kedua orang tua dengan penyebutan hak Allah”[1].

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan,

أحسنوا بالوالدين إحساناً؛ وهو شامل للإحسان بالقول، والفعل، والمال، والجاه، وجميع طرق الإحسان لأن الله أطلق؛ فكل ما يسمى إحساناً فهو داخل في قوله تعالى: { وبالوالدين إحساناً }؛ والمراد بـ “الوالدين” الأب، والأم.

“Yaitu berbuat baiklah kepada kedua orang tua, hal ini termasuk berbuat baik pada perkataan, perbuatan, harta, kedudukan/kemuliaan dan seluruh jalan-jalan yang termasuk dalam kata ihsan karena Allah menyebutkannya secara mutlak. Maka setiap yang dianggap berbuat baik/ihsan termasuk dalam firman Allah Ta’ala di atas (وبالوالدين إحساناً), yang dimaksud dengan (وبالوالدين) adalah kedua orang tua yaitu ayah dan ibu.”[2].

Bahkan Nabi Allah Yahya ‘alaihissalam dipuji Allah karena baktinya pada kedua orang tuanya, sebagaimana firman Allah ‘Azza wa Jalla,

وَبَرًّا بِوَالِدَيْهِ وَلَمْ يَكُنْ جَبَّارًا عَصِيًّا

“Dan (Nabi Yahya) seorang yang berbakti kepada kedua orang tuanya, dan bukanlah ia orang yang sombong lagi durhaka”. [QS. Maryam (19) : 14]

Ibnu Katsir Rohimahullah mengatakan,

لما ذكر تعالى طاعته لربه، وأنه خلقه ذا رحمة وزكاة وتقى، عطف بذكر طاعته لوالديه وبره بهما، ومجانبته عقوقهما، قولا وفعلا

“Ketika Allah Ta’ala menyebutkan bahwa Nabi Yahya adalah orang yang ta’at kepada Robbnya, diciptakan dengan memiliki rasa kasih saying, suci dan bertaqwa. Allah gandengkan penyebutan bahwa beliau adalah orang yang ta’at kepada kedua orang tuanya, berbuat baik kepada keduanya dan jauh dari durhaka kepada keduanya baik dalam hal perkataan maupun perbuatan”[3].

Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam hadits-hadits yang mutawatir berisi perintah untuk berbuat baik kepada kedua orang tua. Demikian juga hadits-hadits yang menunjukkan haramnya berbuat durhaka kepada keduanya[4].

Diantara hadits-hadits tersebut adalah sebagai berikut

عن ابي الدرداء : أن رجلا أتاه فقال إن لي امراة وإن أمي تأمرني بطلاقها قال أبو الدرداء سمعت رسول الله صلى الله عليه و سلم يقول

الْوَالِد أَوْسَط أَبْوَاب الْجَنَّة , فَأَضِعْ ذَلِكَ الْبَاب أَوْ اِحْفَظْهُ

Dari Abu Darda’ dia mengatakan, ‘Dahulu ada seorang laki-laki yang menjumpainya dan mengatakan, ‘Sesungguhnya aku punya istri sedangkan ibuku (dalam sebuah riwayat disebutkan ayah) memerintahkanku untuk mentalak istriku’. Kemudian Abu Darda’ mengatakan, ‘Sesungguhnya aku mendengar Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

“Orang tua adalah pintu tengahnya surga maka jika engkau mau jagalah pintu tesebut jika tidak maka sia-siakanlah”[5].

Demikian juga hadits yang masyhur tentang 3 orang penghuni goa. Yang salah satunya bertawasul dengan amalan berbakti pada kedua orang tuanya,

إِنَّهُ كَانَ لِى وَالِدَانِ شَيْخَانِ كَبِيرَانِ وَامْرَأَتِى وَلِىَ صِبْيَةٌ صِغَارٌ أَرْعَى عَلَيْهِمْ فَإِذَا أَرَحْتُ عَلَيْهِمْ حَلَبْتُ فَبَدَأْتُ بِوَالِدَىَّ فَسَقَيْتُهُمَا قَبْلَ بَنِىَّ وَأَنَّهُ نَأَى بِى ذَاتَ يَوْمٍ الشَّجَرُ فَلَمْ آتِ حَتَّى أَمْسَيْتُ فَوَجَدْتُهُمَا قَدْ نَامَا فَحَلَبْتُ كَمَا كُنْتُ أَحْلُبُ فَجِئْتُ بِالْحِلاَبِ فَقُمْتُ عِنْدَ رُءُوسِهِمَا أَكْرَهُ أَنْ أُوقِظَهُمَا مِنْ نَوْمِهِمَا وَأَكْرَهُ أَنْ أَسْقِىَ الصِّبْيَةَ قَبْلَهُمَا وَالصِّبْيَةُ يَتَضَاغَوْنَ عِنْدَ قَدَمَىَّ فَلَمْ يَزَلْ ذَلِكَ دَأْبِى وَدَأْبَهُمْ حَتَّى طَلَعَ الْفَجْرُ

“Sesungguhnya aku memiliki kedua orang tua yang sudah sangat tua, istri, anak-anak kecil yang dalam pemiliharaanku. Pada saat aku pulang sore hari, aku membawakan susu hasil ternakku kepada mereka. Aku biasanya memulai memberikan susu tersebut kepada kedua orang tuaku terlebih dahulu sebelum yang lainnya. Suatu ketika aku mengembala kambing di tempat yang jauh sehingga aku baru pulang hingga sore tiba. Dan kudapati keduanya telah tertidur. Maka aku perahkan susu sebagaimana biasanya. Kemudian aku menemui keduanya dan membawakan susu untuk mereka. Aku berdiri di sebelah kepala mereka. Aku tidak suka membangunkan mereka, memberikan anakku susu sebelum memberikan susu bagi kedua orang tuaku. Anak-anakku menangis meminta susu tersebut karena lapar di kedua kakiku. Demikianlah keadaanya hingga fajar terbit”[6].

Demikian juga hadits yang menunjukkan betapa besarnya kewajiban berbakti kepada orang tua di atas jihad yang fardhu kifayah,

سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ فَقَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Aku (Abdullah bin Mas’ud) bertanya kepada Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, ‘Amal apakah yang paling dicintai Allah ‘’Azza wa Jalla ?’ Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Sholat pada waktunya”. Aku bertanya lagi selanjutnya apa ? Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua”. Aku bertanya lagi selanjutnya apa ? Beliau menjawab, “Jihad[7] di jalan Allah”.

[Batasan Berbakti / Ta’at Pada Orang Tua]

Namun berbakti / ta’at kepada kedua orang tua juga ada batasannya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada kedua orangtuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku (Allah) dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”.

[QS. Al Ankabut (29) : 8]

 

Abu Ja’far Muhammad bin Jarir Ath Thobari Rohimahullah mengatakan,

إن جاهداك والداك لتشرك بي ما ليس لك به علم أنه ليس لي شريك، فلا تطعهما فتشرك بي ما ليس لك به علم ابتغاء مرضاتهما، ولكن خالفهما في ذلك

“Jika kedua orang tuamu memaksamu untuk berbuat kesyirikan kepada Ku (Allah) yang hal itu kamu tidak memiliki pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya Aku (Allah) tidaklah ada sekutu bagiku, maka janganlah engkau menuruti/ta’at pada perintah keduanya untuk berbuat kesyirikan karena mengharap ridho kedua orang tuamu. Namun selisihilah perintah tersebut”[8].

Hal ini juga diperjelas lagi oleh sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada keta’atan pada hal-hal yang merupakan kemaksiatan kepada Allah. Sesungguhnya keta’atan itu adalah pada hal yang ma’ruf/baik”[9].

Dari hadits di atas dan penjelasan Ath Thobari Rohimahullah jelaslah bagi kita bahwa bukanlah termasuk berbuat baik kepada orang tua apabila orang tua menyuruh melakukan perbuatan yang dilarang dalam agama.

[Ibu adalah orang yang paling didahulukan]

Ibu adalah orang yang paling berhak untuk diperlakukan secara baik. Telah termaktub sebuah hadits dalam kitab Shahihain dari sahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu beliau mengatakan,

جاء رجل إِلَى رَسُول الله – صلى الله عليه وسلم -، فَقَالَ: يَا رَسُول الله ، مَنْ أحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي ؟ قَالَ : (( أُمُّكَ )) قَالَ : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : (( أُمُّكَ )) ، قَالَ : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : (( أُمُّكَ )) ، قَالَ : ثُمَّ مَنْ ؟ قَالَ : (( أبُوكَ ))

Seorang pria datang menemui Rosulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu bertanya, ‘Siapa manusia yang paling berhak aku perlakukan secara baik ?’ Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ibumu”. Pria itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa ?’ Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ibumu”. Pria itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa ?’ Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ibumu”. Pria itu bertanya lagi, ‘Kemudian siapa ?’ Rosululloh Shallallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Ayahmu[10].

Al Imam An Nawawi Rohimahullah mengatakan ketika menjelaskan hadits ini,

نقل الحارث المحاسبي إجماع العلماء على أن الام تفضل في البر على الاب وحكى القاضي عياض خلافا في ذلك فقال الجمهور بتفضيلها وقال بعضهم يكون برهما سواء قال ونسب بعضهم هذا إلى مالك والصواب الاول لصريح هذه الاحاديث في المعنى المذكور والله اعلم قال القاضي واجمعوا على أن الام والاب آكد حرمة في البر ممن سواهما

“Al Harits Al Muhaasibi menukil adanya ijma’/kesepakatan para ulama bahwa ibu lebih diutamakan dalam hal bakti anak dari pada ayah. Sedangkan Al Qodhi ‘Iyaadh mengatakan adanya khilaf tentang hal tersebut. Beliau mengatakan, ‘Jumhur ulama berpendapat ibu lebih diutamakan sedangkan ulama lainnya berpendapat bahwa keduanya sama dalam hal bakti anak kepada keduanya. Sebagian ulama menguatkan pendapat pertama karena jelasnya makna hadits di atas, Allahu a’lam. Al Qodhi mengatakan, ‘Para ulama’ sepakat bahwa ibu dan ayah adalah orang yang paling ditekankan untuk diperlakukan secara baik dari selainnya’’[11].

Orang yang bijak menyikapi perkataan An Nawawi Rohimahullah di atas akan mengatakan bahwa walaupun ibu adalah orang yang paling utama untuk kita perlakukan baik, namun hal yang perlu diingat bahwa orang yang paling berhak setelahnya adalah ayah. Dan hak ayah di atas hak orang-orang lainnya dari kerabat dekat apalagi sekedar teman.

Inilah kekeliruan yang dilakuakan sebagian diantara kita, mereka lebih mendahulukan hak kerabat dari pada hak ayahnya. Padahal ayah adalah orang yang keempat setelah ibu….

 

Sebagai penutup kukatakan padamu wahai diriku dan saudaraku……..

 

Ayah…

Engkaulah Kesatria di Keluargaku….

Engkaulah Orang yang Paling Khawatir Menunggu Kelahiranku….

 

Ayah…

Perjuanganmu untuk diriku, layaknya kesatria berpantang takut…

Pengorbananmu untuk diriku, tak kan sanggup berbayar intan berlian…

 

Ayah…

Terkadang diriku mengabaikanmu, di kala bersama keluargaku…

Terkadang ku melupakanmu, di kala ku bercengkrama dengan anakku…

 

Ayahku…

Sekarang baru kurasakan betapa besarnya pengorbananmu….

Rasa khawatirmu ketika menunggu kelahiranku…

 My Hero…

             I Love U…

 

 

Mudah-mudahan tulisan ringkas ini bisa mendorong kita untuk menunaikan hak ayah, bapak atau abi….

 

 

Setelah Isya’,

8 Jumadits Tsaniy 1434 H/ 19 April 2013 M

 

 

 

Aditya Budiman bin Usman

-yang mengharap ampunan Robbnya-

 


[1] Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir hal. 110/I terbitan Dar Ibnu Rojab, Mesir.

[2]Lihat Tafsir Al Qur’an Al Karim hal. 267/I terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA.

[3] Lihat Shohih Tafsir Ibnu Katsir hal. 63/III.

[4] Lihat Taisir Azizil Hamiid hal. 24 terbitan Al Maktab Al Islami, Beirut.

[5] HR. Tirmidzi no. 1900, Ibnu Majah no. 2089 dan selainnya. Hadits ini dishahihkan oleh Al Albani dan Musthafa Al Adawi.

[6] HR. Bukhori no. 5974 dan Muslim no. 2743

[7] Yang dimaksud adalah jihad yang hukumnya fardhu kifayah sebagaimana yang dikatakan Syaikh Musthofa Al Adawiy hafidzahullah.

[8] Lihat Jami’ al Bayan fi Ta’wil Al Qur’an oleh Ibnu Jarir Ath Thobari.

[9] HR. Bukhori no. 6830, Muslim no. 4871.

[10] HR. Bukhori no. 5970, Muslim no. 85.

[11] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi hal. 318-319/VIII Terbitan Darul Ma’rifah, Beirut.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply