Anti Mainstream Yang Oke Punya

21 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Anti Mainstream Yang Oke Punya

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maa walaah.

 Merupakan tabiat manusia secara umum ingin berbeda dengan orang di sekitarnya. Motivasinya kebanyakan adalah agar dilihat orang atau menjadi pusat perhatian orang atau terbedakan dari pandangan orang. Inilah agaknya yang menyebabkan banyak diantara kita ingin terbedakan dari orang lain sehingga sering melakukan, berpakaian, berprilaku yang anti mainstream. Jikalah anti mainstream nya motivasinya ini maka besar kemungkinan menjadi tercela. Namun tahukah anda, ada juga anti mainstream yang bernilai besar di sisi Allah ‘Azza wa Jalla dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Pertama : Puasa di waktu mainstreamnya kebanyakan orang lalai dari puasa.

Usamah bin Zaid Rodhiyallahu ‘anhuma meriwayatkan, beliau menuturkan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ الْأَيَّامَ يَسْرُدُ حَتَّى يُقَالَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ الْأَيَّامَ حَتَّى لَا يَكَادَ أَنْ يَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ مِنْ الْجُمُعَةِ إِنْ كَانَا فِي صِيَامِهِ وَإِلَّا صَامَهُمَا وَلَمْ يَكُنْ يَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا يَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّكَ تَصُومُ لَا تَكَادُ أَنْ تُفْطِرَ وَتُفْطِرَ حَتَّى لَا تَكَادَ أَنْ تَصُومَ إِلَّا يَوْمَيْنِ إِنْ دَخَلَا فِي صِيَامِكَ وَإِلَّا صُمْتَهُمَا قَالَ أَيُّ يَوْمَيْنِ قَالَ قُلْتُ يَوْمُ الِاثْنَيْنِ وَيَوْمُ الْخَمِيسِ قَالَ ذَانِكَ يَوْمَانِ تُعْرَضُ فِيهِمَا الْأَعْمَالُ عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ وَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ قَالَ قُلْتُ وَلَمْ أَرَكَ تَصُومُ مِنْ شَهْرٍ مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ يُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

 Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam biasa berpuasa beberapa hari berturut-turut sampai-sampai dikatakan beliau tidak pernah tidak puasa dan terkadang tidak puasa hingga hampir-hampir dapat dikatakan beliau tidak puasa kecuali hanya pada 2 hari saja dalam sepekan. Jika tidak (berpuasa terus menerus misal Romadhon –pen) maka beliau berpuasa pada kedua hari tersebut saja. Dan tidaklah beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam berpuasa selama hampir sebulan (selain bulan Romadhon –pen) melebihi banyaknya puasanya pada bulan Sya’ban. Aku (Usamah) bertanya, “Wahai Rosulullah, sesungguhnya engkau berpuasa seakan-akan engkau tidak pernah tidak puasa. Namun engkau pun juga tidak berpuasa seakan-akan engkau tidak pernah puasa kecuali pada dua hari saja”. Beliau Shollallahu alaihi wa Sallam bertanya, “Dua hari yang mana ?” Aku menjawab, “Hari Senin dan Kamis”. Beliau mengatakan, “Di kedua hari itulah diangkat berbagai amal menuju Robbul ‘Alamin dan Aku suka jika amalku diangkat pada saat aku sedang berpuasa”. Aku bertanya, “Aku tidak pernah melihatmu berpuasa kurang lebih satu bulan melebihi banyaknya puasamu di Bulan Sya’ban”. Beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menjawab, “Bulan itu adalah bulan yang manusia lalai darinya diantara yaitu bulan Rojab dan Romadhon. Bulan itulah bulan dimana berbagai amal diangkat menuju Robbul ‘Alamin”[1].

Ibnu Rojab Rohimahullah mengatakan[2],

“Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menyebutkan 2 faidah pada hadits yang diriwayatkan dari Usamah Rodhiyallahu ‘anhu.

Pertama : Sesungguhnya bulan Sya’ban merupakan satu bulan diantara bulan Rojab dan Romadhon yang banyak manusia lalai darinya. Nabi mengisyaratkan sebabnya yaitu karena bulan ini diapit oleh dua bulan yang agung yaitu bulan harom (Rojab) dan bulan Romadhon yang manusia lebih sibuk (beribadah) padanya. Sehingga jadilah bulan Sya’ban ini terlalaikan. Banyak orang menyangka bahwa puasa di bulan Rojab lebih utama dibandingkan puasa di bulan Sya’ban ini karena Rojab adalah bulan harom padahal tidaklah demikian”.

Beliau juga mengatakan,

“Pada hadits ini juga terdapat dalil yang menujukkan dianjurkannya memakmurkan waktu yang manusia lalai darinya dengan melakukan amal keta’atan. Dan sesungguhnya hal ini merupakan sesuatu yang dicintai Allah ‘Azza wa Jalla”[3].

Intinya salah satu ibadah anti mainstream yang dicintai Allah dan Rosul Nya di bulan Sya’ban ini memperbanyak puasa sunnah. Namun dengan catatan jangan sampai karena mengejar hal ini anda lalai dari hal-hal yang merupakan kewajiban anda[4].

 

Kedua : Mengingat Allah dan aturan-aturannya di waktu-waktu mainstreamnya kebanyakan orang lalai darinya.

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda sebagaimana diriwayatkan dari shahabat Umar bin Khotthob Rodhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan,

أَنَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَخَلَ السُّوق فَقَالَ : لَا إِلَه إِلَّا اللَّه وَحْده لَا شَرِيك لَهُ , لَهُ الْمُلْك , وَلَهُ الْحَمْد يُحْيِي وَيُمِيت , وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوت بِيَدِهِ الْخَيْرُ , وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ , كُتِبَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ , وَمُحِيَ عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ , وَرُفِعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ

Sesungguhnya Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Barangsiapa yang masuk pasar lalu mengucapkan, (لَا إِلَه إِلَّا اللَّه وَحْده لَا شَرِيك لَهُ , لَهُ الْمُلْك , وَلَهُ الْحَمْد يُحْيِي وَيُمِيت , وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوت بِيَدِهِ الْخَيْرُ , وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ) artinya ‘Tidak ada sesembahan yang berhak disembah kecuali Allah. Tidak serikat baginya. Milik Nya lah semua kerajaan. Bagi Nya lah seluruh pujian. Dia adalah Dzat yang mematikan dan menghidupkan. Dia adalah Dzat Yang Maha Hidup dan Tidak Pernah Mati. Di tangan Nya lah seluruh kebaikan lagi Maha Mampu melakukan segala sesuatu’ maka dituliskan baginya satu juga kebaikan, dihapuskan darinya satu juta keburukan dan diangkat derajatnya satu juta derajat”[5].

Dengan catatan tentunya seseorang yang mengucapkan do’a ini paham makna dan mampu merealisasikan kandungan maknanya. Allahu a’lam.

Pointnya : lihatlah betapa besar ganjaran dari mengingat Allah, aturan-aturannya dan memahami makna shifat Allah serta melakukan konsekwensinya dimana ketika itu kebanyakan orang lalai darinya. Sebagaimana diketahui bersama pasar merupakan tempat dimana banyak sekali orang melakukan berbagai model penipuan dan lupa aturan Allah. Ketika seorang hamba mampu tampil Anti Mainstream dari prilaku kebanyakan orang ketika itu maka Allah ‘Azza wa Jalla pun menyiapkan ganjaran yang luar biasa besar untuknya.

Ibnu Rojab Al Hambali Rohimahullah menyebutkan beberapa faidah menghidupkan, melaksanakan berbagai keta’atan di waktu kebanyakan manusia lalai. 2 diantara adalah

“[1]. Diantarnya sesungguhnya amal ketika itu lebih tersembunyi. Menyembunyikan amalan-amalan nafilah merupakan sebuah hal yang lebih utama, terutama puasa. Sebab hal itu merupakan rahasia antara seorang hamba dan Robbnya. Oleh sebab itu dikatakan, ‘Tidak ada riya’ padanya”[6].

Beliau juga mengatakan,

“[2] Sesungguhnya beramal ketika itu terasa berat bagi jiwa. Salah satu amal yang paling utama adalah amal yang paling berat bagi jiwa melakukannya. Sebabnya jiwa manusia itu mengikuti apa yang dia lihat pada kondisi kebanyakan orang. Jika banyak yang ingat dan melakukan berbagai keta’atan diantara mereka maka banyak pula orang yang melakukan keta’atan tersebut. Sehingga melakukan berbagai keta’atan terasa ringan dan mudah. Namun sebaliknya, jika pada saat itu banyak manusia lalai dari keta’atan dan kebanyakan orang pun lalai darinya maka jiwa pun merasa berat untuk tersadar melakukan berbagai bentuk keta’atan sebab sedikitnya orang yang melakukannya”[7].

 

Mari bersemangat melakukan berbagai keta’atan di Bulan Sya’ban ini. Ayo jangan tunggu besok !!!

Sigambal Menjelang Kerja, 4 Sya’ban 1439 H / 20 April 2018 M.

 

 

Aditya Budiman bin Usman Bin Zubir

[1] HR. Ahmad no. 21801, An Nasa’i 2357, Abdur Rozzaq no. 7917 dan Albazzaar no. 2617. Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Syuaib Al Arnauth, Syaikh Thoriq bin Awadhollah dan Syaikh Al Albani Rohimahumullah.

[2] Lihat Lathoif Ma’arif hal. 234 terbitan Al Maktab Al Islami, Beirut, Lebanon.

[3] Idem hal 235.

[4] Idem hal. 224.

[5] HR. Tirmidzi 3428, Ibnu Majah no. 2235 dan Ahmad no. 327. Hadits ini dinilai hasan oleh Al Albani Rohimahullah.

[6] Lihat Lathoif Ma’arif hal. 236.

[7] Idem hal. 237.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply