Kita Berdakwah Kepada Allah atau ??

11 Jun

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kita Berdakwahkwah Kepada Allah atau ??

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Anda seorang da’i di jalan Islam ? Jika ya, alhamdulillah. Apakah kita benar-benar menyeru kepada Allah ‘Azza wa Jalla atau menyeru agar orang lain mengikuti kita ? Jika yang kedua inilah posisi dan kondisi kita maka mari koreksi ulang diri kita. Mudah-mudahan coretan berikut bisa membantu meluruskan kembali niat kita.

[1]. Ingat kembali apa yang anda dakwahkan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah (Muhammad), “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah di atas ilmu, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. (QS.Yusuf [12] : 108)

Syaikh Sholeh Alu Syaikh Hafizhahullah mengatakan tentang penjelasan ayat ini,

Anda Berdakwah Kepada Allah atau 1

“Firman Allah Ta’ala (أَدْعُو إِلَى اللَّهِ) ‘mengajak (kamu) kepada Allah’. Sesungguhnya beliau (Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam) berdakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla bukan kepada selain Nya. Pada potongan ayat ini terdapat 2 Faidah.

Pertama, Sesungguhnya dakwah kepada Allah merupakan dakwah untuk mentauhidkan Allah dan menuju agama Nya[1].

Artinya dakwah Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam adalah dakwah yang mengajak manusia untuk mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla. Demikian juga dakwah para ulama yang benar-benar mengikuti beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam. Bukan dakwah yang mengajak untuk mengikuti orang yang mengajak/da’i.

Anda Berdakwah Kepada Allah atau 2

Kedua, penekanan untuk ikhlas. Hal ini sangat dibutuhkan orang yang akan mengajak, berdakwah kepada tauhid Laa Ilaaha Illallah dan Islam. Artinya seorang yang hendak menyeru, berdakwah kepada Islam/tauhid maka dia harus ikhlas”.

Anda Berdakwah Kepada Allah atau 3

“Karena banyak orang yang meskipun dia memang mendakwahkan kebenaran namun sesungguhnya dia sedang berdakwah kepada orang lain agar mengikuti dirinya, atau motif yang semisal”[2].

Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan[3],

فقد يكون الإنسان يدعو، ويحاضر ويخطب، لكن قصده من ذلك أنه يتبيّن شأنه عند الناس، ويصير له مكانة، ويمدح من الناس، ويتجمهرون عليه، ويكثرون حوله، فإذا كان هذا قصده، فهو لم يدع إلى الله، وإنما يدعو إلى نفسه والإنسان الذي يترك الدعوة فإنه ترك واجباً عظيماً، والإنسان الذي لم يُخلص في الدعوة يقع في محظور عظيم،

“Mungkin orang yang berdakwah, mengadakan muhadhoroh, berkhutbah namun yang dia inginkan dari hal itu adalah agar kedudukan dirinya jelas di sisi masyarakat, membuat dirinya memiliki tempat khusus di tengah-tengah mereka, agar orang-orang memujinya, orang-orang menghormatinya, banyak orang yang mengiringinya. Jika itulah niatnya maka sebenarnya dia tidak berdakwah kepada Allah. Bahkan sesungguhnya dia sedang mengajak orang lain untuk mengikuti dirinya. Seseorang yang meninggalkan kewajiban dakwah berarti dia telah meninggalkan kewajiban yang besar. Sedangkan seseorang yang tidak ikhlas ketika berdakwah maka dia berada dalam kondisi yang berbahaya”.

Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin Rohimahullah mengatakan[4],

Anda Berdakwah Kepada Allah atau 5

Orang yang berdakwah kepada Allah adalah orang yang tidak menginginkan kecuali agar agama Allah tegak. Sedangkan orang yang berdakwah kepada dirinya sendiri (agar orang mengikutinya) adalah orang yang menginginkan perkataannya diterima, diikuti orang lain baik ketika dia benar atau ketika dia salah”.

[2]. Ingat kembali bahaya yang akan kita hadapi jika niat tidak benar.

Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang sangat terkenal di tengah-tengah kita,

أَوَّلَ النَّاسِ يُقْضَى يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَلَيْهِ ..وَرَجُلٌ تَعَلَّمَ الْعِلْمَ وَعَلَّمَهُ وَقَرَأَ الْقُرْآنَ فَأُتِىَ بِهِ فَعَرَّفَهُ نِعَمَهُ فَعَرَفَهَا قَالَ فَمَا عَمِلْتَ فِيهَا قَالَ تَعَلَّمْتُ الْعِلْمَ وَعَلَّمْتُهُ. قَالَ كَذَبْتَ وَلَكِنَّكَ تَعَلَّمْتَ الْعِلْمَ لِيُقَالَ عَالِمٌ

“Orang yang pertama kali dinyalakan api neraka untuknya adalah …. Seorang laki-laki yang belajar menuntut ilmu agama dan membaca Al Qur’an. Maka dia datang dengan hal itu dan mengakui nikmat tersebut. Kemudian ditanyakan kepadanya, “Dari Ilmu mu itu apa yang sudah kau amalkan ?” Dia menjawab, “Aku mempelajari ilmu agama dan akupun telah mengamalkannya”. Maka diakatakan padanya, “Engkau dusta akan tetapi engkau mempelajari ilmu agama agar orang menyebutmu sebagai ulama, orang yang paham agama atau ustadz”[5].

Betapa berbahayanya jika kita tidak meluruskan niat dalam ranah dakwah kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

[3]. Ingat ketika niat kita tidak benar maka kita bukanlah pengikut Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam yang sejati.

Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan Al Fauzan Hafizhahullah mengatakan[6],

{أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي} أي: وأتباعي يدعون إلى الله على بصيرة، فدلّ على أن من لم يدع إلى الله لم يحقق إتباع الرسول صلى الله عليه وسلم

“Firman Allah Ta’ala (أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي) ‘Aku dan orang-orang yang mengikuti jalanku’. Yaitu orang yang mengikuti dalam berdakwah kepada Allah di atas ilmu/bashiroh. Potongan ayat ini menunjukkan bahwa orang yang tidak berdakwah kepada Allah/tauhid bukanlah orang yang benar-benar mengikuti Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam”.

Demikianlah mudah-mudahan goresan ini dapat menggugah kembali hati kita agar kembali meluruskan niat kita hanya mengharap ridho Allah ‘Azza wa Jalla baik diikuti orang ataupun tidak. Allahu a’lam.

 

Di sela-sela piket kantor, 17 Sya’ban 1436 H, 4 Juni 2015 M

Aditya Budiman bin Usman.

[1] Sebagaimana yang dikatakan Ibnu Katsir Rohimahullah dalam tafsirnya untuk ayat ini.

[2] Lihat At Tamhid hal. 89-90 secara ringkas terbitan Dar Imam Bukhori, Dhoha Qatar.

[3] Lihat I’anatul Mustafid hal. 136/I terbitan Darul ‘Ashimah, Riyadh, KSA.

[4] Al Qoulul Mufid hal. 139/I.

[5] HR. Muslim no. 5032.

[6] Lihat I’anatul Mustafid hal. 138/I.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply