Adab – Adab Ketika Hujan

2 Sep

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Adab – Adab Ketika Hujan

Alhamdulillah negeri kita adalah negeri yang banyak sekali mendapatkan limpahan karunia Allah ‘Azza wa Jalla. Salah satu karunia tersebut adalah nikmat diturunkannya air hujan. Banyak negeri yang tidak dianugrahi nikmat ini. Oleh karena itu agar kita termasuk orang-orang yang pandai bersyukur dan nikmat yang diberikan tidak menjadi sumber bencana, maka mari kita sebagai seorang muslim mari kita pelajari dan amalkan adab-adab yaitu dzikir ketika hujan baik sebelum, sesudah ataupun pada saat hujan.

Ketika Belum Turun Hujan

1.     Do’a ketika angin bertiup,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا

“Ya Allah, sesungguhnya kau meminta kepada Mu kebaikannya (angin) dan aku berlindung kepada Mu dari keburukannya (angin)”[1].

Redaksi hadits di atas merupakan riwayat dari sahabat Abu Huroiroh Rodhiyallahu ‘anhu[2].

Penulis Syarh Hisnul Muslim mengatakan,

Hadits di atas redaksi sempurnanya adalah, sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam,

الرِّيحُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ تَأْتِى بِالرَّحْمَةِ وَتَأْتِى بِالْعَذَابِ فَلاَ تَسُبُّوهَا ، وَاسْأَلُوا اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ خَيْرَهَا وَاسْتَعِيذُوا بِاللَّهِ مِنْ شَرِّهَا

“Angin merupakan salah satu anugrah/rahmat Allah. Angin datang dengan rahmat Allah atau sebagai adzab. Jika kalian melihatnya maka janganlah kalian mencelanya. Minta kepada Allah kebaikannya dan berlindunglah dari kejelekannya”[3].

Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (تَأْتِى بِالرَّحْمَةِ وَتَأْتِى بِالْعَذَابِ) maksudnya bahwa angin terkadang menjadi rahmat ketika datang bersamaan dengan hujan di tanah yang gersang dan tandus atau bertiup ketika cuaca sedang panas dan lain sebagainya. Namun terkadang angin dapat menjadi adzab. Ketika angin bertiup kencang yang dapat merobohkan rumah dan bangunan lainnya, menyebabkan bencana, mematahkan pepohonan, mencerai beraikan awan yang diharapkan darinya hujan…. dan lain-lain.

Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (فَلاَ تَسُبُّوهَا), Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam melarang mencaci angin karena angin merupakan salah satu dari ayat kauniyah Allah Subhana wa Ta’ala. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَمِنْ آَيَاتِهِ أَنْ يُرْسِلَ الرِّيَاحَ مُبَشِّرَاتٍ وَلِيُذِيقَكُمْ مِنْ رَحْمَتِهِ

“Dan diantara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah bahwa Dia mengirimkan angin sebagai pembawa berita gembira (sebagai tanda datangnya hujan) dan untuk merasakan kepadamu sebagian dari rahmat-Nya”. (QS. Ar Ruum [30] : 46)

Imam Asy Syafi’i Rohimahullah mengatakan,

“Tidak pantas (terlarang) seseorang mencaci angin. Karena angin merupakan salah satu ciptaan Allah yang patuh, tentara dari sekian banyak bala tentara Allah. Allah menjadikan angin sebagai rahmat dan dapat sebagai murka jika Allah berkehendak”[4].

Penulis Syarh Adabul Mufrod mengatakan,

“Pada hadits ini terdapat dalil yang menunjukknya terlarangnya mencaci angin karena angin merupakan salah satu dari karunia Allah yang dapat datang sebagai nikmat atau adzab. Hadits ini juga menjadi dalil dianjurkannya meminta kepada Allah kebaikan angin dan berlindung kepada Nya dari keburukan angin”[5].

Terdapat do’a lainnya ketika angin bertiup. Hadits ini diriwayatkan dari ‘Ummul Mu’minin ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha,

اللَّهُمَّ إِنِّى أَسْأَلُكَ خَيْرَهَا وَخَيْرَ مَا فِيهَا وَخَيْرَ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا وَشَرِّ مَا فِيهَا وَشَرِّ مَا أُرْسِلَتْ بِهِ

“Ya Allah, sesungguhnya aku meminta kepada Mu kebaikan angin ini, kebaikan yang ada padanya dan kebaikan yang dengannya diutus. Dan aku berlindung kepada Mu dari kejelekannya, kejelekan yang ada padanya dan kejelekan yang diutus dengannya”[6].

Penulis Syarh Hisnul Muslim mengatakan,

“Pada do’a ini terdapat 3 permintaan. Pertama permintaan kebaikan angin itu sendiri, semisal rasa enjoy manusia ketika angin berhembus di saat cuaca panas/gerah, angin sepoi sepoi, menerbangkan biji-bijian/benih tumbuhan, menghilangkan aroma yang tidak sedap dan lain sebagainya. Kedua kebaikan yang ada padanya, semisal turunnya hujan yang bermanfaat karena hujan tidaklah turun melainkan didahului adanya hembusan angin. Ketiga kebaikan yang diutus dengannya, semisal awan. Karena awan datang jika ditiup angin. Karena angin bertiup dapat membawa kebaikan dan keburukan. Semisal angin dapat menjadi sebab adanya hujan yang bermanfaat atau hujan yang membahayakan. Demikian juga pada do’a ini terdapat tiga permohonan perlindungan dari tiga hal. Tiga hal itu merupakan kebalikan dari sebelumnya”[7].

2.    Do’a ketika petir bergemuruh,

سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ

“Maha suci Allah yang Ar Ro’du bertasbih memujinya dan malaikat-malaikatnya karena takut kepada Nya”.

Teks atsar di atas secara lengkap adalah sebagai berikut,

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ : أَنَّهُ كَانَ إِذَا سَمِعَ الرَّعْدَ تَرَكَ الْحَدِيثَ وَقَالَ : سُبْحَانَ الَّذِى يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلاَئِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ ، ثُمَّ يَقُولُ إِنَّ هَذَا الْوَعِيدَ لأَهْلِ الأَرْضِ شَدِيدٌ.

Dari ‘Abdullah bin Az Zubair, “Sesungguhnya dia terbiasa jika mendengar gemuruh/halilintar, beliau berhenti berbicara dan mengucapkan,

“(سُبْحَانَ الَّذِي يُسَبِّحُ الرَّعْدُ بِحَمْدِهِ وَالْمَلائِكَةُ مِنْ خِيفَتِهِ)

 Maha suci Allah yang Ar Ro’du bertasbih memujinya dan malaikat-malaikatnya karena takut kepada Nya. Kemudian beliau mengatakan, ‘Sesungguhnya ini (halilintar/gemuruh) ini merupakan ancaman yang amat keras bagi penduduk bumi’[8].

‘Ali bin Abu Tholib dan ‘Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyaallahu ‘anhum dan kebanyakan ahli tafsir berpendapat bahwa (الرَّعْدُ) adalah nama malaikat menggiring awan mendung.

‘Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallahu ‘anhuma mengatakan, “Seorang Yahudi datang menemui Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam”.

أَخْبِرْنَا مَا هَذَا الرَّعْدُ؟ قَالَ: مَلَكٌ مِنْ مَلاَئِكَةِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ مُوَكَّلٌ بِالسَّحَابِ، بِيَدِهِ أَوْ فِى يَدِهِ مِخْرَاقٌ مِنْ نَارٍ يَزْجُرُ بِهِ السَّحَابَ يَسُوقُهُ حَيْثُ أَمَرَ اللَّهُ قَالُوا: فَمَا هَذَا الصَّوْتُ الَّذِى يُسْمَعُ؟ قَالَ: صَوْتُهُ, زجره بالسحاب إذا زجره حتى ينتهي إلى حيث أمر قَالُوا: صَدَقْتَ

Kemudian mereka bertanya, ‘Apakah halilintar/gemuruh itu ? Beliau menjawab, “Seorang malaikat dari malaikat-malaikat Allah. Ditugaskan untuk hal-hal yang berkaitan dengan awan mendung, dia memiliki kilatan cahaya yang sangat cepat yang dengannya dia menggiring awan mendung kemana yang Allah kehendaki”. Mereka bertanya lagi, ‘Lalu suara apa yang kita dengar ketika halilintar bergemuruh ?’ Beliau menjawab, “Suaranya sebagai penghalau awan yang dengannya dia menghalau awan kemana yang diperintahkan”. Mereka mengatakan, ‘Engkau benar’[9].

 

Ketika Turun Hujan

1.     Do’a ketika melihat hujan,

اللهمَّ صَيْبًا نَافِعًا.

“Ya Allah anuggrahkanlah kami hujan yang bermanfaat”.

Teks lengkap hadits ini adalah sebagai berikut,

عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا رَأَى الْمَطَرَ قَالَ اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا

Dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha, ‘Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam  jika melihat hujan turun, beliau mengucapkan, “(اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعًا) Ya Allah anuggrahkanlah kami hujan yang bermanfaat”[10].

Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (صَيِّبًا) maksudnya adalah hujan yang deras. Sebagaian pendapat lain menyebutkan (صَيِّبًا) adalah hujan yang airnya dapat mengalir (dipermukaan tanah -ed).

Imam Bukhori Rohimahullah membuat judul bab ketika meriwayatkan hadits ini mencantumkan judul (باب ما يقال إذا أمطرت) “Bab Ucapan Ketika Hujan”. Ibnu Hajar Rohimahullah menukil sebuah pendapat maksud judul bab di atas yaitu, ucapan ketika turun hujan yang baik dan membahayakan[11].

Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (صَيِّبًا) maksudnya adalah sifat hujan yang diminta. Hal ini mengandung arti permohonan agar dihindarkan dari hujan yang membahayakan[12].

Kapan do’a ini diucapkan ?

Pertanyaan di atas dapat dijawab berdasarkan riwayat yang dimiliki Abu Dawud dari Syuraih bin Haanii’ dari ‘Aisyah Rodhiyallahu ‘anha,

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ إِذَا رَأَى نَاشِئًا فِى أُفُقِ السَّمَاءِ تَرَكَ الْعَمَلَ وَإِنْ كَانَ فِى صَلاَةٍ ثُمَّ يَقُولُ « اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا ». فَإِنْ مُطِرَ قَالَ « اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا ».

‘Sesungguhnya Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam jika melihat kejadian di ufuk langit. Beliau berhenti dari pekerjaannya. Apabila kejadian itu terjadi ketika beliau sedang sholat maka beliau mengucapkan, (اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّهَا)  “Yaa Allah aku berlindung kepadamu dari keburukannya”. Kemudian apabila telah turun hujan beliau membaca (اللَّهُمَّ صَيِّبًا هَنِيئًا) “Yaa Allah anugrahkanlah hujan yang menyenangkan/baik”[13].

Ibnu Hajar Rohimahullah mengatakan,

“Dapat diketahui bahwa do’a yang disebutkan di atas dianjurkan hukumnya diucapkan ketika telah turun hujan agar menambah kebaikan dan berkahnya serta terhindar dari bahaya ditimbulkannya”[14].

2.    Do’a setelah hujan berhenti ,

مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ

“Kami telah diberi hujan dengan keutamaan dan rahmat dari Allah”.

Teks lengkap hadits di atas adalah,

عَنْ زَيْدِ بْنِ خَالِدٍ الْجُهَنِىِّ قَالَ : صَلَّى لَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلاَةَ الصُّبْحِ بِالْحُدَيْبِيَةِ فِى إِثْرِ سَمَاءٍ كَانَتْ مِنَ اللَّيْلِ ، فَلَمَّا انْصَرَفَ أَقْبَلَ عَلَى النَّاسِ بِوَجْهِهِ فَقَالَ :« هَلْ تَدْرُونَ مَاذَا قَالَ رَبُّكُمْ؟ ». قَالُوا : اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ. قَالَ :« قَالَ : أَصْبَحَ مِنْ عِبَادِى مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ ، فَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ فَذَلِكَ مُؤْمِنٌ بِى وَكَافِرٌ بِالْكَوْكَبِ ، وَأَمَّا مَنْ قَالَ مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا فَذَلِكَ كَافِرٌ بِى وَمُؤْمِنٌ بِالْكَوْكَبِ ».

Dari Zaid bin Kholid Al Juhaanii. Dia mengatakan, ‘Kami sholat subuh bersama Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam di Hudaibiyah ketika itu hujan turun. Ketika selesai sholat beliau Shollallahu ‘alaihi wa Sallam menghadapkan wajahnya kepada kami. Kemudian bertanya, “Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan Robb kalian ?” Para Sahabat menjawab, “Allah dan Rosul Nya yang lebih tahu”. Beliau bersabda, “Robb kalian telah berfirman, “Telah mendapati waktu subuh hamba-hambaku yang beriman dan yang kufur. Adapun yang beriman mengatakan ‘(مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ) Kami telah diberi hujan dengan keutamaan dan rahmat dari Allah’. Itulah orang-orang yang beriman kepadaku dan kufur kepada bintang-bintang. Sedangkan  yang mengatakan ‘Kami diberi hujan karena bintang ini dan itu’ maka itulah orang-orang yang kufur kepadaku dan beriman dengan bintang-bintang”[15].

Sabda Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam (مُطِرْنَا بِفَضْلِ اللَّهِ وَرَحْمَتِهِ) maksudnya adalah kami telah Allah berikan rizki berupa hujan dengan keutamaan dan rahmat dari Nya[16].

Berkaitan dengan hadits ini ada pembahasan para ulama tentang kekufuran orang yang mengatakan (مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا) kami diberi hujan karena bintang ini dan itu.

Pendapat Pertama :

Kufur disini adalah kufur kepada Allah Subhana wa Ta’ala, hilang darinya ashlu/pokok iman dengan kata lain keluar dari Islam. Para ulama mengatakan, ‘Hal ini bagi orang-orang yang mengatakan perkataan tersebut dan berkeyakinan bahwa bintang-bintanglah pembuat hujan, yang mengatur dan yang menentukan/menciptakan hujan. Inilah yang diyakini sebagaian orang jahiliyah. Barangsiapa yang mengatakan hal ini (مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا) dan berkeyakinan dengan keyakinan di atas maka tidak diragukan lagi kekafirannya*. Inilah pendapat Jumhur ‘Ulama dan Imam Asy Syafi’i  termasuk di dalamnya. Pendapat inilah yang sesuai dengan dhohir hadits.  Oleh karena itu jika ada orang yang mengatakan (مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا) namun berkeyakinan bahwa hujan tersebut dari Allah Subhana wa Ta’ala dan dengan rahmat Nya. Ketika mengatakan hal itu dia hanya meyakini bintang-bintang hanya merupakan tanda yang dapat dijadikan sebagai perkiraan secara kebiasaan. Maka yang demikian tidaklah menjadikan pelakunya kafir. Namun perkataan yang semisal itu adalah seseuatu yang hukumnya makruh/dibenci walaupun apabila terjadi pelakunya tidak berdosa. Alasan dimakruhkannya adalah karena perkataan ini sering diucapkan orang-orang kafir dan yang semisal dengan mereka.

Pendapat Kedua :

Yang dimaksud dengan kufur dalam hadits di atas adalah kufur nikmat. Hal ini disebabkan karena kelalaiannya menisbatkan turunnya hujan kepada bintang-bintang. Namun hal ini berlaku untuk orang-orang yang tidak menyakini bintanglah yang mengatur hujan[17]. Penafsiran ini didukung riwayat lain tentang hadits ini,

أَصْبَحَ مِنَ النَّاسِ شَاكِرٌ وَمِنْهُمْ كَافِرٌ

“Orang-orang telah mendapati waktu subuh diantara mereka ada yang termasuk hamba yang bersyukur dan ada yang kufur”[18].

Dan juga hadits lainnya sehingga  kufur yang dimaksud adalah kufur nikmat. Allahu a’lam[19].

Maka apabila seorang muslim hendak berlepas diri dari khilaf para ulama maka hendaklah ia memilih untuk tidak mengatakan (مُطِرْنَا بِنَوْءِ كَذَا وَكَذَا) kami diberi hujan karena bintang ini dan itu.

Mudah-mudahan bermanfaat.

Sigambal, Menjelang ‘Ashar

18 Syawal 1434 H / 25 Agustus 2013 M / Aditya Budiman bin Usman



[1] HR. Abu Dawud no. 5097, Ibnu Majah no. 3727. Hadits ini dinilai hasan oleh Al Albani Rohimahullah.

[2] Terdapat redaksi lainnya yang akan dicantumkan setelah penjelasan hadits ini insya Allah.

[3] HR. An Nasa’i no. , Bukhori dalam Adabul Mufrod no. 719. Hadits ini dinilai shahih oleh Al Albani Rohimahullah.

[4] Lihat Syarh Hisnul Muslim oleh Majdi bin ‘Abdul Wahaab Ahmad hal.254-255 terbitan Mu’asasah Al Jiraisi, Riyadh.

[5] Lihat Rosyul Barod Syarh Adabul Mufrod oleh DR. Muhammad Luqman hal. 399 terbitan Darud Da’i, Riyadh, KSA.

[6] HR. Bukhori no. 3206 dan Muslim no. 899. Redaksi di atas milik Muslim.

[7] Lihat Syarh Hisnul Muslim oleh Majdi bin ‘Abdul Wahaab Ahmad hal.255-256.

[8] Lihat Al Muwatho’ Imam Malik no. 1801, Adabul Mufrod Al Bukhori no. 723. Atsar ini dinyatakan shohih oleh Al Albani.

[9] Lihat Musnad Imam Ahmad no. 2483, Tirmidzi no. 3117 dan Nasa’i no. 9072. Atsar ini dinilai shohih oleh Al Albani.

[10] HR. Bukhori no. 1032, Abu Dawud no. 1176.

[11] Lihat Fathul Barii hal. 387/III, terbitan Dar Thoyyibah, Riyadh.

[12] Idem.

[13] HR. Abu Dawud no. 1176. Dinilai shohih oleh Al Albani.

[14] Lihat Fathul Barii hal. 388/III.

[15] HR. Bukhori no. 846 dan Muslim no. 71.

[16] Lihat Syarh Hisnul Muslim oleh Majdi bin ‘Abdul Wahaab Ahmad hal. 261 terbitan Mu’asasah Al Juraysiy, Riyadh

[17] Karena para ulama sepakat barangsiapa yang menyakini bahwa bintanglah yang membuat hujan, mengatur serta menentukan hujan maka tidak diragukan kekafirannya. (lihat tanda * pada tulisan ini).

[18] HR. Muslim no. 243 dari jalur ‘Abdullah bin ‘Abbaas Rodhiyallahu ‘anhuma.

[19] Lihat Al Minhaaj Syarh Shohih Muslim oleh An Nawawi Asy Syafi’i hal. 248-249/I terbitan Darul Minhaaj, KSA.

 

Tulisan Terkait

2 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. Hisnul Muslim
    Nov 20, 2013 @ 16:48:33

    Very useful. Thank you for this post!

    Reply

Leave a Reply