7 Adab Bersosial Media

22 Feb

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

7 Adab Bersosial Media

Alhamdulillah wa sholatu wa salamu ‘alaa Rosulillah wa ‘alaa ashabihi wa maawalaah.

Sosial media merupakan sebuah hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern. Mulai dari Facebook, Twitter, BBM, WA, Line, Telegram dan seterusnya. Seseorang dapat dengan mudah berinteraksi dengan orang yang sangat jauh sekalipun melalui sosial media. Oleh karena itu sebagai seorang muslim sudah sepantasnya mengetahui beberapa adab bersosial media.

Berikut kami sebutkan diantara adab bersosial media.

Niat yang benar

Maksudnya hendaklah seorang muslim ketika dia akan menggunakan sosial media berniat yang baik dan bukan sebagai sarana untuk menyalurkan kemaksiatan. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى

“Sesungguhnya amal tergantung niatnya dan bagi seseorang apa yang dia niatkan”[1].

Diantara niat yang baik tersebut adalah untuk menyambung tali silaturahim dan menyambung ukhuwah Islamiyah. Rosulullah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآَخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهَ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia menyambung tali silaturahim”[2].

Yang dimaksud tali silaturahim di sini adalah hubungan kekerabatan atau saudara yang memiliki kekerabatan[3]. Adapun dalil untuk menyambung ukhuwah Islamiyah adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Hanyalah sesungguhnya orang-orang beriman, muslim itu bersaudara”. (QS. Al Hujuroot [49] : 10)

 

Jangan sampai sosial media melalaikan kewajiban kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam dan orang-orang yang memiki hak atas diri anda

Maksudnya, aktifitas anda di sosial media tidak boleh menjadikan anda melalaikan kewajiaban yang Allah ‘Azza wa Jalla dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bebankan kepada anda. Misalnya, janganlah sosial media menjadikan anda lalai dalam melaksanakan sholat berjama’ah di mesjid, menuntut ilmu dan lain sebagainya. Karena hukum asal dari sosial media adalah boleh dan dapat berubah sesuai tujuan. Sedangkan kewajiban dari Allah dan Rosul Nya Shollallahu ‘alaihi wa Sallam hukum asalnya wajib dikerjakan dengan segera.

Demikian pula, janganlah sosial media menjadikan anda lalai dari hak-hak orang lain atas anda. Misalnya hak nafkah untuk istri dan keluarga, hak tetangga, hak tamu bahkan yang lebih utama hak kedua orang tua anda. Realitanya banyak orang yang tidak menunaikan hak-hak ini karena asyik bersosial media.

 

Menjungjung tinggi akhlak mulia

Sosial media layaknya muamalah real kepada orang lain di dunia nyata. Oleh sebab itu hendaknya seorang muslim tetap menjunjung tinggi akhlak mulia ketika berinteraksi di sosial media. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

 “Mukmin yang paling sempurna imannya adalah mukmin yang paling baik akhlaknya”[4].

Al Munawi Rohimahullah mengatakan,

قال الحليمي : دل على أن حسن الخلق إيمان وعدمه نقصان إيمان ، وأن المؤمنين يتفاوتون في إيمانهم ، فبعضهم أكمل إيمانا من بعض

‘Al Halimiy mengatakan, “(Hadits ini) menunjukkan bahwa akhlak yang baik merupakan bagian dari iman. Ketidakbaikan dalam akhlak menunjukkan kurangnya iman seseorang. Sesungguhnya orang-orang yang beriman beraneka ragam derajatnya dalam iman. Sebagian mereka lebih utama dari sebagaian yang lainnya”[5].

Jeleknya akhlak anda di sosial media menunjukkan adanya kekurangan dalam iman anda.

 

Jadikan sosial media sebagai sarana dakwah

Sosial media merupakan wahana tempat berkumpulnya banyak orang di dunia maya. Oleh sebab itu, sosial media merupakan objek dakwah yang sangat potensial untuk digarap. Dalam hitungan detik anda dapat dengan mudah mendakwahkan agama Allah kepada orang lain. Dengan ini besar harapan kita kelak akan menjadi tabungan di akhirat ketika orang orang lain mampu mengamalkannya dengan perantaraan kita. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

 “Barangsiapa yang menunjukkan kebaikan maka baginya (pahala) semisal orang yang mengamalkannya”[6].

Ingat dan ini penting, janji Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam di ataslah yang anda harapkan. Bukan agar orang lain menilai anda ‘alim, ustadz dan seterusnya. Namun jangan karena takut dibilang ‘alim, ustadz lantas anda tidak mau menjadikan sosial media sebagai sarana dakwah. Jangan hiraukan itu. Ingat Syaithon tidak akan pernah ridho anda meninggalkannya di neraka.

 

Jangan sekali-sekali mengeluh di sosial media

Merupakan sebuah musibah dan tanda kurangnya keyakinan anda kepada Allah ‘Azza wa Jalla jika anda mengeluh di sosial media. Sungguh, keluhan anda di sosial media bukanlah solusi permasalahan dan tidak akan merubah keadaan tanpa izin Allah Subhanahu wa Ta’ala. Tidakkah anda yakin bahwa Allah adalah Robbul ‘Alamin (Tuhan Pemilik Semesta Alam) ?! Bisakah, Dapatkah makhluk yang lemah merubah keadaan anda ?! Allah Ta’ala berfirman,

خُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“Manusia diciptakan dalam keadaan lemah”(QS. An Nisa [4] : 28)

Mengeluhlah kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Dia berfirman,

فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ

“Maha Suci Dzat yang di tangan Nya lah perbendaharaan segala sesuatu”. (QS. Yaasiin [36] : 83)

Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلْ اللَّهَ وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ

“Jika engkau hendak berdo’a, maka berdo’alah kepada Allah. Jika engkau hendak meminta, memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah”[7].

 

Jangan memajang foto diri pada pose yang tidak bermanfaat

Fotografi hukum asalnya boleh, asalkan kontennya bebas dari masalah. Namun yang jadi permasalahan sekaligus fenomena di sosial media sekarang adalah memajang foto selfie yang kurang manfaatnya, atau boleh dikatakan tidak bermanfaat sama sekali. Bahkan betapa banyak foto profil menjadi sumber bencana bagi anda dan orang lain yang melihat. Banyak kasus perselingkuhan, perzinaan dan perceraian bermula dari foto di sosial media. Cukup wahai kawan, stop mencari-cari alasan sebagai pembenaran. Cukuplah hadits Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam yang pendek nan sarat makna ini.

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

“Termasuk tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya”[8].

Jangan menjadi sebab orang lain bermaksiat dan jangan mempertaruhkan diri anda pada kemungkinan buruk.

Catatan : Jika foto yang menutup aurot saja seperti ini, tentulah foto yang membuka sebagian aurot lebih sangat bahkan harus dihindari. Sebab foto tersebut dapat menjadi washilah bagi orang lain untuk melakukan kemaksiatan yang anda tidak ketahui. Tidakkah anda takut ketika anda tidur namun kemaksiatan yang disebebabkan foto anda terus menerus berlangsung ??!!

 

Hindari berinteraksi dengan lawan jenis yang bukan mahrom

Laki-laki normal diciptakan memiliki ketertarikan pada perempuan, demikian pula sebaliknya. Sosial media menyediakan berbagai macam fasilitas yang memungkin anda berkholwat dengan lawan jenis anda. Nabi Shollallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda,

لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ (لاَ تَحِلُّ لَهُ) إِلَّا كَانَ ثَالِثُهُمَا الشَّيْطَانُ

“Tidaklah seorang lelaki berduaan dengan seorang perempuan (yang tidak halal baginya) kecuali yang ketiga diantara mereka berdua adalah Syaithon[9].

Wahai saudaraku, betapa banyak kenyataan, kejadian yang tidak diinginkan bermula dari ini ??!! Godaan syaithon senantiasa menyambar-nyambar. Bala tentaranya senantiasa mengintai anda !!!

Musibahnya lebih parah lagi, banyak sosial media dilengkapi dengan fasilitas chatting dengan video. Sangat memungkinkan bagi anda melakukan banyak larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan ini tanpa seorangpun yang tahu kecuali Allah ‘Azza wa Jalla dan makhluk yang dikehendaki Nya. Jangan mulai saudaraku.

Namun jika ada mashlahat dakwah yang nyata dan anda sangat mampu menjaga diri dari fitnah serta godaan Syaihton maka silakan..

 

Allahu Ta’ala A’lam.

Mari instropeksi diri kita masing-masing.

20 Shoffar 1437 H/ 2 Desember 2015 M

[1] HR. Bukhori no. 1, Muslim no. 1907.

[2] HR. Bukhori no. 6138.

[3] Lihat Syarh Shohih Adabul Mufrod oleh Husain Al ‘Uwaisyah hal. 74/I terbitan Maktabah Islamiyah.

[4] HR. Abu Dawud no. 4682, Tirmidzi no. 1162 dan lain-lain. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[5] Lihat Faidhul Qodir hal. 124/II terbitan Darul Kutub ‘Ilmiyah via Syamilah.

[6] HR. Muslim no. 1893.

[7] HR. Tirmidzi no. 2516, Ahmad no. 2763. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[8] HR. Tirmidzi no. 2317 dan lain-lain. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[9] HR. Tirmidzi no. 1171 dan lain-lain. Hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply