3 Permintaan Dalam 1 Do’a

1 May

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

3 Permintaan Dalam 1 Do’a

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘alaa Rosulillah Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

Termasuk cara mengikuti Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam dengan baik, merutinkan hal-hal yang beliau Shollalahu ‘alaihi wa Sallam rutinkan. Diantara hal beliau rutinkan adalah meminta 3 permintaan dalam setiap kali mendapati subuh.

Syaikh Prof. DR. Abdur Rozzaq Al Badr Hafidzahullah mengatakan[1],

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 1

“Sesungguhnya diantara do’a agung, bermanfaat yang Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam biasa merutinkan dan senantiasa mengucapkannya pada setiap subuh adalah do’a yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Sunan Ibnu Majah dari Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَقُولُ إِذَا صَلَّى الصُّبْحَ حِينَ يُسَلِّمُ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

Sesungguhnya Rosulullah Shollalahu ‘alaihi wa Sallam jika beliau sholat subuh kemudian salam lalu biasanya mengucapkan do’a,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Yaa Allah, Sesungguhnya aku meminta kepada Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima”[2].

Perhatikan saudaraku, yang meriwayatkan hadits ini adalah istri Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam, Ummu Salamah Rodhiyallahu ‘anha. Artinya beliau benar-benar sering mengucapkan do’a ini terkhusus setelah sholat subuh dan do’a ini termasuk salah satu dzikir pagi/subuh yang tidak layak kita tinggalkan. Allahu a’lam.

Syaikh Prof. DR. Abdur Rozzaq Al Badr Hafidzahullah melanjutkan[3],

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 2

“Siapa yang menelaah do’a yang mulia ini, maka dia akan mendapati bahwa sesungguhnya pelaksanaan do’a ini di waktu setelah sholat subuh merupakan sebuah hal yang sangat cocok/sesuai keadaan. Karena waktu subuh adalah waktu dimana dimulainya hari. Bagi seorang muslim, tidak ada yang inginkan pada hari tersebut melainkan tercapainya tujuan dan maksud yang agung pada do’a ini. Yaitu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diteriman. Seolah-olah ketika dia memulai harinya dengan mengucapkan do’a untuk tiga perkara ini, dia membatasi target dan tujuannya di hari itu pada 3 hal dalam 1 do’a ini”.

Sungguh bagus apa yang diungkap Syaikh ‘Abdur Rozzaq Hafizhahullah di atas. Seyogyanya kita sebagai seorang muslim menanamkan dalam hati kita target capaian. Target capaian tersebut adalah bertambahnya ilmu yang bermanfaat, mendapatkan rizki yang thoyyib dan diterimanya amal ibadah kita.

Syaikh Prof. DR. Abdur Rozzaq Al Badr Hafidzahullah mengatakan[4],

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 3

“(Bagi –pen.) Seorang muslim mayoritas harinya, bahkan seluruh harinya keinginannya tidak lain adalah merealisasikan dan menyempurnakan ketiga tujuan ini, menggapainya melalui jalan terdekat serta terbaik (yang dia mampu –pen.)”.

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 4

“Berdasarkan hal ini, maka sungguh indah bila hari dibuka, dimulai dengan meminta 3 permintaan yang menjadi target utama seorang muslim dalam kesehariannya kemudian berusaha merealisasikannya”.

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 5

“Seorang muslim ketika mengamalkan dzikir/do’a ini dalam memulai hanya bukanlah semata-mata agar tujuannya tercapai. Bahkan ketika dia mengamalkan do’a ini dia harus merendahkan dirinya kepada Robb nya dan bersandar kepada Nya. Agar Allah menganugrahkan terwujudnya tujuan yang agung ini baginya. Karena tiada daya dan upaya, kemampuan untuk mewujudkan tujuan tersebut, mendapatkan kebaikan serta menolak keburukan melainkan atas izin Robb nya Subhanahu wa Ta’ala”.

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 6

“Permintaan seorang muslim ketika dia berdo’a dengan do’a,

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا وَرِزْقًا طَيِّبًا وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا

“Yaa Allah, Sesungguhnya aku meminta kepada Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang baik dan amal yang diterima”.

Do’a ini merupakan permohonan bantuan ketika memulai hari dari Robb nya, Allah Subhanahu wa Ta’ala agar dimudahkan kesukaran yang dia hadapi, gampangkan kesulitan dan pertolongan agar terwujudnya yang terpuji dan penuh berkah ini”.

Point penting dari keterangan Syaikh Hafizhahullah di atas adalah :

  • 3 target utama kita sepantasnya kita gapai dengan cara yang terdekat dan terbaik.
  • Ketika kita meminta 3 hal tersebut sesunggunya kita sedang memohon bantuan kepada Allah dengan penuh perendahan diri, penyandaran diri dan tawakkal kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

Selajutnya simak penjelasan lafazh do’a ini.

Syaikh Prof. DR. Abdur Rozzaq Al Badr Hafidzahullah menuturkan[5],

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 7

“Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam memulai do’a ini dengan meminta ilmu yang bermanfaat artinya berilmu dahulu sebelum memulai berucap dan beramal. Permintaan ilmu yang bermanfaat didahulukan memiliki hikmah yang tidak akan samar bagi orang yang mau mencermati. Ketahuilah dengan ilmu yang bermanfaat seseorang mampu membedakan amal yang sholeh dan yang bukan amal sholeh. Dengan ilmu yang bermanfaat seseorang mampu membedakan mana rizki yang baik (termasuk dalam hal ini halal –pen.) dan yang tidak baik. Orang yang tidak memiliki ilmu yang bermanfaat maka banyak perkara yang boleh jadi membuatnya terperdaya. Dia mengerjakan sebuah pekerjaan yang dia anggap baik dan bermanfaat padahal sebenarnya tidak demikian. Allah Ta’ala berfirman,

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا . الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا .

Katakanlah, “Maukah Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya ?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya”. (QS. Al Kahfi [18] : 103-104)

Dia berusaha mencari rizki dan harta, dia mengira bahwa rizki yang dia cari merupakan rizki yang baik, halal dan bermanfaat padahal hakikatnya adalah rizki yang kotor, haram dan membahayakan dirinya”.

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 8

“Tidak ada cara bagi seseorang untuk membedakan, memilah dan memilih antara hal-hal yang bermanfaat dan yang membahayakan, hal yang baik/halal dan yang kotor/haram melainkan dengan ilmu yang bermanfaat”.

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 9

“Sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam (عِلْمًا نَافِعًا) ‘ilmu yang bermanfaat’ merupakan dalil yang menunjukkan bahwa ilmu itu ada dua. Ada ilmu yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat. Ilmu yang bermanfaat yang paling utama adalah ilmu yang dapat menghantarkan seorang muslim dekat kepada Robb nya dan mengetahui urusa-urusan agamanya serta melalui ilmu tersebut dia dapat mengetahui jalan yang benar yang harus dilalui seseorang”.

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 10

“Betapa pantasnya bagi seorang muslim ketika dia memulai hari dengan memberikan perhatian terhadap Al Qur’an Al Karim dengan membacanya, mempelajarinya. Kemudian memberikan perhatian terhadap sunnah Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam yang menjelaskan maksud dan yang diinginkan ayat-ayat Al Qur’an”.

Syaikh melanjutkan[6],

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 11

“Sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam (وَرِزْقًا طَيِّبًا) ‘rizki yang baik/halal’ terdapat isyarat bahwa rizki ada dua jenis. Ada rizki yang baik/halal dan ada yang kotor/haram. Sedangkan Allah Ta’ala tidak menerima kecuali yang baik/halal. Allah ‘Azza wa Jalla telah memerintahkan orang-orang yang beriman dengan apa yang diperintahkan kepada para rosul. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا

“Wahai para rosul, makanlah dari makanan yang baik-baik/halal, dan kerjakanlah amal yang sholeh”. (QS. Al Mukminun [23] : 51)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

“Wahai orang-orang yang beriman makanlah makanan yang baik/halal dari apa yang kami berikan kepada kalian”. (QS. Al Baqoroh [2] : 172)

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 12

“Sepantasnyalah bagi seorang musim pada kesehariannya berusaha mencari harta yang baik, halal, rizki yang selamat dan bermanfaat. Serta hendaknyalah dia menghindari harta-harta yang kotor dan cara mendapatkan yang haram”.

Syaikh meneruskan[7],

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 13

“Sabda Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam (عَمَلًا مُتَقَبَّلًا) ‘ilmu yang bermanfaat’ dalam satu riwayat lain (عَمَلًا صَالِحًا) ‘Amal yang sholeh’. Terdapat isyarat bahwa tidak semua amal yang seorang hamba dengannya berusaha mendekatkan dirinya kepada Allah termasuk amal yang diterima Allah. Bahkan Allah hanya menerima amal yang sholeh saja. Amal yang sholeh adalah amal yang ikhlas karena Allah semata dan sesuai petunjuk Nabi Muhammad Shollalahu ‘alaihi wa Sallam. Itulah yang Allah Ta’ala firmankan,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

“Dzat Yang Menciptakan Kematian dan Kehidupan untuk menguji kalian siapa diantara kalian yang terbaik amalnya”. (QS. Al Mulk [67] : 2)

Fudhoil bin ‘Iyaadh Rohimahullah mengatakan,

Yang paling ikhlas dan yang paling benar amalnya”. Ada yang bertanya, “Wahai Abu ‘Ali, apa yang dimaksud dengan yang paling ikhlas dan paling benar ?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya amal jika ikhlas karena Allah namun tidak benar maka tidak akan diterima sebaliknya jika amal tersebut sudah benar namun tidak ikhlas juga tidak diterima, sampai amal tersebut ikhlas dan benar. Amal yang ikhlas adalah amalan karena Allah dan amal yang benar adalah amal yang sesuai Sunnah Nabi Shollalahu ‘alaihi wa Sallam[8].

Syaikh mengakhiri[9],

3 Permintaan Dalam 1 Do'a 14

“Do’a ini merupakan do’a yang agung, memiliki manfaat yang besar. Seorang muslim disunnahkan merutinkannya pada setiap subuh dalam rangka meneladani Nabi yang mulia Shollalahu ‘alaihi wa Sallam. Setelah itu hendaklah dia iringi do’anya dengan amal nyata”.

 

 

Selesai Subuh, 11 Rojab 1436 H, 30 April 2015 M

Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi/Aditya Budiman bin Usman.

[1] Lihat Fiqh Al Adzkaar wal Ad’iyah hal. 40/III terbitan Kunuuz Isyibilia, Riyadh, KSA.

[2] HR. Ahmad no. 26774 dan Ibnu Majah no. 925 hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani Rohimahullah.

[3] Lihat Fiqh Al Adzkaar wal Ad’iyah hal. 40/III.

[4] Idem hal. 41/III.

[5] Idem hal. 41-42/III.

[6] Idem hal. 42-43/III.

[7] Idem hal. 43/III.

[8] Diriwayatkan Ibnu Abu Dunya dalam kitab Al Ikhlash wa An Niyah hal. 50-51 serta Abu Nu’aim dalam Al Hilyah hal. 95/VIII.

[9] Lihat Fiqh Al Adzkaar wal Ad’iyah hal. 43/III.

 

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply