Tafsir Surat Al Kahfi (2)

12 Apr

Share

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (2)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.
Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.
[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 4-5]
Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (4) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآَبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا (5)
Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak”. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.  (QS. Al Kahfi [18] : 4-5)

Penjelasan Ayat
Firman Allah ‘Azza wa Jalla, (وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا) Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak”. Maksudnya adalah sebagaimana klain orang Nashrani yang mengatakan Isa adalah anak Allah atau perkataan orang Yahudi bahwa adalah ‘Uzair adalah anak Allah dan orang-orang Musyrik mengatakan bahwa Malaikat adalah anak perempuan Allah *.
‘Uzair adalah orang yang sholeh dan bukan merupakan Nabi.
Firman Allah (مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ) Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, maksudnya mereka tidak memiliki pengetahuan tentang anak Allah dan tentang yang mereka katakan.
Firman Allah Ta’ala (كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ) Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Sebagian tholibul ilmi mengalami kebingungan mansubnya firman Allah (كَلِمَةً) dalam firman Allah di atas.
Jawabannya adalah adalah tamyiz sedangkan failnya ditakdirkan (كَبُرَتْ مَقَالَتُهُمْ كَلِمَةً) artinya betapa besarnya perkataan mereka karena hal yang mereka bicarakan itu adalah hal yang sangat agung, wal iyyadzu billah. Sebagaimana firman Allah,

تَكَادُ السَّمَوَاتُ يَتَفَطَّرْنَ مِنْهُ وَتَنْشَقُّ الْأَرْضُ وَتَخِرُّ الْجِبَالُ هَدًّا (90) أَنْ دَعَوْا لِلرَّحْمَنِ وَلَدًا (91) وَمَا يَنْبَغِي لِلرَّحْمَنِ أَنْ يَتَّخِذَ وَلَدًا (92) إِنْ كُلُّ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ إِلَّا آَتِي الرَّحْمَنِ عَبْدًا (93)
“Hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu dan bumi terbelah serta gunung-gunung runtuh. Karena mereka mengklaim bahwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Dzat Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak. Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi, kecuali akan datang kepada Dzat Yang Maha Pemurah selaku seorang hamba”. (QS. Maryam [19] : 90-93)

Lalu jika ada yang bertanya bukankah Allah ‘Azza wa Jalla juga berfirman dalam ayat yang lain,

قُلْ إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ فَأَنَا أَوَّلُ الْعَابِدِينَ
“Katakanlah, jika benar Dzat Yang Maha Pemurah mempunyai anak, maka akulah (Muhammad) orang yang mula-mula memuliakan (anak itu)”. (QS. Az Zukhruf [43] : 81)

Maka jawaban atas syubhat ini adalah memang benar Allah Subhana wa Ta’ala berfirman demikian. Akan tetapi ada penghubungan syarat [pada firman Allah (إِنْ كَانَ لِلرَّحْمَنِ وَلَدٌ)] tidaklah sama sekali menunjukkan mungkinnya syarat tersebut terjadi. Karena jika kita melihat ayat-ayat lain yang terdapat syarat di dalamnya yang mana syarat tersebut tidak mungkin terjadi. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

فَإِنْ كُنْتَ فِي شَكٍّ مِمَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ فَاسْأَلِ الَّذِينَ يَقْرَءُونَ الْكِتَابَ مِنْ قَبْلِك
“Maka jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca kitab sebelum kamu”. (QS. Yunus [10] : 94)

Dalam ayat di atas jelaslah bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mungkin ragu atas apa yang diturunkan kepada beliau yaitu Al Qur’an namun ayat di atas maksudnya adalah penggambaran bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi pada Beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.
Demikian juga firman Allah Subhana wa Ta’ala,

لَوْ كَانَ فِيهِمَا آَلِهَةٌ إِلَّا اللَّهُ لَفَسَدَتَا
“Sekiranya di langit dan di bumi ada tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa”. (QS. Al Anbiya’ [21] : 22)

Maka jelaslah bagi kita tidak mungkin ada tuhan selain Allah di langit dan di bumi. Dengan demikian maka jalaslah syubhat di atas bagi kita.
Firman Allah Ta’ala (إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا) Tidaklah yang mereka ucapkan itu melainkan kedustaan. Dusta (kadzbu) adalah berita/keterangan/khabar yang bertentangan dengan kebenaran. Sedangkan kebenaran (shidqu) adalah kebalikannya. Sehingga jika seseorang mengatakan “Si Fulan telah pulang hari ini” padahal si Fulan belum pulang maka yang demikian adalah kedustaan sama saja apakah yang berbicara tentang hal itu tahu atau tidak tahu kenyataan yang sebenarnya.
Mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis dan pembaca sekalian.
[Diringkas dari Kitab Tafsir Surat Al Kahfi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin hal. 13-16 terbitan Dar Ibnul Jauzi Riyadh, KSA]

Sigambal, Ketika Waktu Dhuha 15 Jumadil ‘Ulaa 1433 H / 07 April 2012 M
Aditya Budiman bin Usman
-yang mengharap ampunan Robbnya-

 

Tulisan Terkait

Leave a Reply