Seputar Aqiqah

28 Sep

Share

 بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Seputar Aqiqah

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Dzat yang telah menciptakan langit dan bumi serta segala isinya. Sholawat serta salam semoga senantiasa dilimpahkan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi was sallam kepada istri-istri beliau dan seluruh sahabatnya Ridwanullah alaihim ajma’in.

[Pengertian Aqiqah]

Aqiqah berasal dari Bahasa Arab yang berarti potong, namun ada juga yang mengatakan artinya adalah rambut bawaan yang ada pada kepala bayi saat ia lahir dari perut ibunya, baik manusia maupun hewan.

Pengertian aqiqah secara istilah syari’at adalah hewan yang disembelih karena (lahirnya) anak sebagai bentuk syukur kepada Allah Ta’ala dengan niat dan syarat-syarat tertentu.

[Hukum Aqiqah]

Aqiqah disyari’atkan oleh para ulama secara umum, hal ini merupakan pendapat Ibnu ‘Abbas, Ibnu ‘Umar, ‘Aisyah, Para Tabi’in dan Imam-Imam lainnya rodhiyallahu ‘anhum. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

مَعَ الْغُلاَمِ عَقِيقَةٌ ، فَأَهْرِيقُوا عَنْهُ دَمًا وَأَمِيطُوا عَنْهُ الأَذَى

“Untuk setiap anak aqiqah, tumpahkanlah untuknya darah (sembelihlah hewan sembelihan) dan bersihkanlah darinya kotoran[1][2].

Demikian juga hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam,

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى

 “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih untuknya (hewan sembelihan) pada hari ke tujuh, dicukur rambutnya dan diberi nama padanya”[3].

Namun para ‘ulama berselisih apakah hukumnya wajib, sunnah ataukah makruh. Al Hasan dan Dawud rohimahumallah mengatakan bahwa aqiqah hukumnya wajib. Sebahagian lagi mengatakan hukumnya makruh seperti Imam Abu Hanifah dan para pengikutnya. Sedangkan jumhur ulama mengatakan bahwa aqiqah hukumnya mustahab/dianjurkan.

[Siapakah yang Dituntut untuk Melaksanakan Aqiqah ?]

Pihak yang dituntut dari mereka pelaksanaan aqiqah adalah ayah dari anak tersebut atau orang-orang yang wajib menafkahinya. Maka mereka mengeluarkan harta mereka sendiri untuk melaksanakan aqiqah dan tidak dari harta si anak. Pihak lain tidaklah boleh melaksanakannya melainkan atas izin ayah anak tersebut.

[ Apa Hewan yang Boleh Digunakan untuk Aqiqah ?]

Pendapat terkuat dalam masalah ini –Allahu a’lam- adalah hewan yang boleh dijadikan sebagai hewan sembelihan untuk aqiqah hanya kambing/domba. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam pada pembahasan selanjutnya.

[Berapa Jumlah Hewan yang Boleh Digunakan untuk Aqiqah ?]

Dari ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anha, Nabi Shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,

عَنِ الْغُلاَمِ شَاتَانِ مُكَافِئَتَانِ وَعَنِ الْجَارِيَةِ شَاةٌ

“Atas seorang anak laki-laki 2 ekor kambing yang usianya berdekatan dan atas seorang anak perempuan 1 ekor kambing”[4].

 

Hadits inilah yang dijadikan oleh sebagian ulama dalam mengambil pendapat diantara mereka adalah Ibnu ‘Abbas, ‘Aisyah rodhiyallahu ‘anhum, demikian juga Imam Syafi’i, Ahmad, Ishaq dan Abu Tsaur.

Namun ada ulama lain yang mengatakan aqiqah telah terlaksana apabila 1 orang anak laki-laki diaqiqahi dengan 1 ekor domba/kambing sama seperti perempuan. Ulama yang berpendapat demikian adalah Ibnu ‘Umar rodhiyallahu ‘anhuma. Beliau berdalil dengan hadist dari Ibnu ‘Abbas rodhiyallahu ‘anhuma,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنِ الْحَسَنِ وَالْحُسَيْنِ كَبْشًا كَبْشًا.

“Sesungguhnya Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam mengaqiqahi al Hasan dan al Husain masing-masing dengan seekor domba”[5].

Sekilas dua hadits di atas terlihat bertentangan namun ada kompromi yang menurut kami merupakan kompromi untuk memahami kedua hadits ini, yaitu dengan apa yang disampaikan Ash Shon’ani di Subulus Salam, Beliau rohimahullah mengatakan,

بِأَنَّ ذَلِكَ فِعْلٌ وَهَذَا قَوْلٌ وَالْقَوْلُ أَقْوَى ، وَبِأَنَّهُ يَجُوزُ أَنَّهُ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَبَحَ عَنْ الذَّكَرِ كَبْشًا لِبَيَانِ أَنَّهُ يُجْزِئُ ، وَذَبْحُ الِاثْنَيْنِ مُسْتَحَبٌّ

“Bahwasanya hal itu (hadits dari Ibnu ‘Abbas) adalah perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam sedangkan hal ini (hadits ‘Aisyah) adalah perkataan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam (dan merupakan sebuah hal yang telah ma’ruf dalam kaidah bahwa) perkataan lebih kuat. Sehingga aqiqah 1 ekor kambing untuk laki-laki adalah perkara yang dibolehkan. Sesungguhnya perbuatan Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam menyembelih 1 ekor kambing untuk anak laki-laki maka hal ini menunjukkan bolehnya/sahnya hal tersebut dan perkataan Beliau shallallahu ‘alaihi was sallam yang menyebutkan bahwa aqiqah untuk anak laki-laki 2 ekor kambing menunjukkan bahwa hal itu hukumnya mustahab atau dianjurkan”[6].

[Waktu Pelaksanaan Aqiqah]

Disunnahkan melaksanakannya pada hari ke tujuh, hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ

 “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, disembelih untuknya (hewan sembelihan) pada hari ke tujuh”[7].

Jika hari ke tujuh telah lewat maka dianjurkan pada hari ke-14 atau ke-21. Hal ini berdasarkan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

الْعَقِيقَةُ تُذْبَحُ لِسَبْعٍ وَلأَرْبَعَ عَشْرَةَ وَلإِحْدَى وَعِشْرِينَ

“Sembelihan aqiqah dilaksanakan pada hari ke tujuh atau empat belas atau dua puluh satu”[8].

 

[Aqiqah Lebih Utama Dilakukan dengan Sembelihan Dibanding Digantikan dengan Nilai Sembelihan]

Para ulama’ mengatakan melaksanakan aqiqah dengan menyembelih kambing lebih utama dari pada bersedekah dengan nilainya. Karena tujuan dari aqiqah adalah mengalirkan darah hewan aqiqah.

[Diperbolehkan Shohibul Aqiqah Memakan Daging Sembelihannya]

Syaikh DR. Sholeh bin Fauzan mengatakan,

وَيُسْتَحَبُّ أَنْ يَأْكُلَ مِنْهَا وَيَهْدِيَ وَيَتَصَدَقَ , أَثْلَاثًا كَالْأَضْحِي

“Dianjurkan untuk memakan sembelihan aqiqahnya, menghadiahkannya dan bersedekah dengannya sebanyak sepertiganya sebagaimana kurban”[9].

[Disunnahkan Shohibul Aqiqah Memasak Terlebih Dahulu Daging Sembelihannya]

Disunnahkan memasak semebelihan aqiqahnya terlebih dahulu dari pada menyedekahkannya dengan bentuk daging mentah. Hal ini akan menambah kebaikan kepada shohibul aqiqah karena menambah bentuk rasa syukur kepada Allah atas nikmat yang Allah anugrahkan kepadanya berupa anak.

 

Demikianlah tulisan ringkas seputar ini, mudah-mudahan kita dimudahkan Allah ‘Azza wa Jalla untuk melaksakannya dan amalan yang kita kerjakan diterimannya sebagai amal sholeh di sisiNya, Amin.

Tulisan ini diangkat dari Kitab Shohih Fiqh Sunnah karya Syaikh Kamal Abu Malik hal. 380-384/II terbitan Maktabah Tauqifiyah, Kairo, Mesir dengan perubahan seperlunya.

Sigambal, Sebelum Maghrib 27 Syawal 1432 H/26 September 2011 M

 

 

Aditya Budiman bin Usman



[1] Terdapat dua penafsiran untuk potongan hadits ini yaitu bersihkan (cukur) rambutnya yang ia bawa ketika dilahirkan dan penafsiran lainnya bersihkanlah dengan melaksanakan khitan pada bayi tsb (lihat ta’liq atas Shohih Bukhori oleh Syaikh Mustafa Dib al Bugho untuk hadits ini hal. 2082/II cet. Dar Ibnu Katsir Beirut).

[2] HR. Bukhori No. 5472 secara mu’alaq dengan redaksi jazm/tegas, Abu Dawud No. 2839, Tirmidzi no. 1515 dan Ahmad no. 18/IV.

[3] HR. Abu Dawud 2838, An Nasa’i no. 166/VII, Tirmidzi no. 1522, Ibnu Majah no. 3165 disahihkan oleh Al Albani rohimahullah.

[4] HR. Tirmidzi no. 1513, Ibnu Majah no. 3163 disahihkan oleh Al Albani rohimahullah.

[5] HR. Abu Dawud no. 2842, An Nasa’i no. 4230 disahihkan oleh Al Albani rohimahullah, Namun Syaikh mengatakan bahwa riwayatnya An Nasai yang menyebutkan (كبشين كبشين) lebih shohih.

[6] Lihat Subulus Salam Al Maushulatu ilaa Bulughil Maroom oleh Ash Shon’ani dengan tahqiq Muhammad Shubhi Hasan Kholaaq hal. 350/VII cet. Dar Ibnul Jauzy, Riyadh. (dengan perubahan gaya bahasa).

[7] HR. Abu Dawud 2838, An Nasa’i no. 166/VII, Tirmidzi no. 1522, Ibnu Majah no. 3165 disahihkan oleh Al Albani rohimahullah.

[8] HR. Baihaqi dalam sunan Al Kubro no. 19076, hadits ini dinilai shohih oleh Al Albani dalam tahqiq untuk Kitab Jami’ ash Shoghir no. 7581.

[9] Lihat Al Mulakhos Al Fiqhiy oleh DR. Sholeh bin Fauzan hal. 216 terbitan Dar Ibnu Jauziy Riyadh, KSA.

 

Tulisan Terkait

3 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. abdulm62
    Jan 27, 2013 @ 12:57:34

    Assalamu’alaikum saudaraku, saya mohon ijin untuk menyalin tulisan ini. trima kasih

    Reply

Leave a Reply