Dianggap Bi’dah Padahal Nikmat Allah

2 Mar

Share

Pertanyaan :

Jika Anda Mengatakan Semua Perkara yang Tidak Ada di Zaman Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam adalah Bid’ah Maka Pengeras Suara yang Anda Gunakan untuk Kajian Juga Bid’ah ?

Jawaban :

Jawaban masalah ini sebenarnya simpel/sederhana, namun perlu kami jelaskan bahwa penanya belum paham apa yang dimaksud dengan bid’ah dan ibadah.  Oleh karena itu kami akan jelaskan dua hal tersebut secara ringkas.

Pertama, Bid’ah/perkara baru yang dimaksudkan dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

إِيَّاكُمْ وَالأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

Jauhilah oleh kalian perkara-perkara baru karena sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat[1].

Maka yang dimaksud perkara-perkara baru (لأُمُورَ الْمُحْدَثَاتِ) dan bid’ah (بِدْعَةٍ) dalam hadits di atas adalah perkara baru dalam urusan agama dan bukanlah perkara baru dalam urusan dunia. Karena perkara-perkara baru dalam masalah dunia jika perkara tersebut bermanfaat maka padanya kebaikan demikian juga jika perkara tersebut terdapat bahaya maka perkara tersebut adalah perkara yang buruk. Akan tetapi jika perkara yang baru tersebut adalah perkara dalam agama maka seluruhnya buruk karena itulah Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam mengatakan dalam lanjutan haditsnya,

فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ

“Sesungguhnya semua bid’ah adalah sesat[2][3].

Demikian juga dijelaskan dalam hadits yang lain bahwa bid’ah yang terlarang adalah bid’ah dalam masalah agama bukan bid’ah dalam masalah dunia sebagaimana sabda Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam,

مَنْ أَحْدَثَ فِى أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa membuat suatu perkara baru dalam urusan kami ini yang tidak ada asalnya, maka perkara tersebut tertolak”[4].

Hadits ini juga memiliki lafadz hadits lain yang disebutkan Ibnu Rojab dalam kitabnya,

مَنْ أَحْدَثَ فِى دِيْنِنَا مَا لَيْسَ فِيهِ فَهُوَ رَدٌّ

Barangsiapa yang mengadakan suatu hal yang baru dalam masalah agama kami maka perkara tersebut tertolak/tidak diterima”[5].

Dengan dua penjelasan di atas maka jelaslah bagi kita sejelas-jelasnya bahwa perkara baru yang tercela dan sesat adalah perkara baru dalam urusan agama.

Kedua, Ketahuilah, para ulama menjadikan perkara ibadah menjadi dua macam. Macam pertama adalah ibadah yang murni ibadah (ibadah mahdhoh). Ibadah yang satu ini harus melalui wahyu, tanpa wahyu seseorang tidak mungkin mengamalkannya. Contohnya adalah shalat, puasa, dan dzikir. Ibadah jenis pertama ini tidak boleh seseorang membuat kreasi baru di dalamnya. Sedangkan macam kedua adalah ibadah bukan murni ibadah (ghoiru mahdhoh). Macam kedua ini, asalnya adalah perkara mubah atau perkara dunia. Namun karena diniatkan untuk ibadah, maka bernilai pahala. Seperti berdagang, jika diniatkan ikhlas karena Allah untuk menghidupi keluarga, bukan semata-mata untuk cari penghidupan, maka nantinya bernilai pahala.[6]

Jika pengertian ini telah kita pahamai maka akan mudah kita bagi kita untuk memahami bahwa penggunaan microphone dalam pengajian, adzan dan lain-lain bukanlah termasuk bid’ah dalam istilah syari’at. Namun hanya berupa bid’ah secara bahasa yang berarti perkara yang baru dalam masalah dunia dan hal ini tidaklah termasuk dalam hadits tentang larangan berbuat bid’ah.

Kemudian kita tambahkan bahwa penggunaan microphone dalam pengajian, adzan dan lain-lain padanya ada manfaat yang jelas dan syari’at kita menjelaskan bahwa Allah mensyari’atkan seluruh perkara yang manfaat. Lebih lanjut kita katakana bahwa penggunaan microphone dalam pengajian, adzan dan lain-lain memiliki asal/dalil dalam syari’at karena Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam memerintahkan ‘Abbas bin Abdil Mutholib rodhiyallahu ‘anhu untuk berteriak memanggil orang-orang yang berbai’at kepada Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam yang persitwa ini dikenal sebagai bai’atul ridwan sebagaimana dicamtumkan Al Imam Muslim rohimahullah dalam kitab Shohihnya,

فَقَالَ عَبَّاسٌ وَكَانَ رَجُلاً صَيِّتًا فَقُلْتُ بِأَعْلَى صَوْتِى أَيْنَ أَصْحَابُ السَّمُرَةِ

Maka ‘Abbas memanggil dengan suara yang keras –yang mana beliau adalah orang yang suaranya keras-, “Aku katakana dengan suara yang keras, “Mana Ashabul Samuroh (orang-orang yang berbai’at kepada Nabi shollallahu ‘alaihi was sallam yang persitwa ini dikenal sebagai bai’atul ridwan) ?”[7]

Demikian juga yang terjadi pada sahabat Abu Bakar dan Abu Tholhah rodhiyallahu ‘anhuma. Jadi pada masalah penggunaan microphone dalam pengajian, adzan dan lain-lain memiliki asal/dalil baik itu berupa jenis perbuatannya dan keumummannya yaitu padanya manfaat yang nyata[8].Allahu a’lam.

Al Faqir Ilaa Maghfiroti Robbihi,

Aditya Budiman


[1] HR. Ibnu Majah no. 44, Ahmad no. 17184, Ad Darimi no. 96, hadits ini dinyatakan shohih oleh Al Albani rohimahullah.

[2] Idem.

[3] Lihat Syarh Al ‘Arba’in An Nawawiyah oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah hal. 303, terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut, Lebanon.

[4] HR. Bukhari no. 20 dan Muslim no. 1718.

[5] Lihat Jami’ul Ulum wal Hikaam oleh Ibnu Rojab Al Hambali rohimahullah hal. hal. 174 dengan tahqiq oleh Syaikh Syu’aib Al Arnauth dan Syaikh Ibrohim Al Bajas terbitan Mu’asasah Risalah, Beirut, Lebanon.

[6] Lihat pembahasan dalam kitab Tahdzib Tashil Al Aqidah Al Islamiyah, Syaikh ‘Abdullah bin ‘Abdil ‘Aziz Al Jibrin, hal. 39-40, Maktabah Al Mulk Fahd, cetakan pertama.

[7] HR. Muslim no. 76.

[8] Lihat Mandzumah Ushul Fiqh wa Qowaidihi oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rohimahullah hal. 40-41, terbitan Dar Ibnul Jauziy. Riyadh,KSA.

Tulisan Terkait

18 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. el-taufiq89.net
    Apr 17, 2010 @ 17:43:00

    Bismillah.. Yah.. Akhi Ana setuju dengan penjelasan yang akhi paparkan, Jadi sipenanya belum memahami arti atau makna Bid’ah itu apa, klw masalah dunia itu malah wajib kita adakan. oiya.. boleh yah ana copy lagi tuk di posting di http://eltaufiq89net.blogspot.com/… sebagai bahan kajian dakwah di net atau di masyarakat ana memerlukannya… sebelumnya . Jazakumullah

    Reply

    • budi
      Apr 18, 2010 @ 06:18:51

      waiyyakum
      tambahan, hendaklah jika mengucapkan jazakumullah khoir bukan dengan jazakumullah saja, karena bisa jadi syar am khoir walaupun ana husnudzon sama antum.
      barakallah fik

      Reply

  2. hafidz
    Apr 27, 2010 @ 06:24:31

    Bismillah,

    Assalamu’alaikum.

    Artikel yang simple, jelas, dan padat..Sangat bagus sekali akhi..Karena kalau orang yg Hatinya sehat pasti akan sangat mudah sekali untuk memahaminya, kecuali mereka yang hatinya sakit.

    Syukran Akhi atas dalil-dalil nya, Jazakumullahu Khairan

    Reply

    • budi
      Apr 28, 2010 @ 09:34:35

      Alaikumussalam,
      Afwan, wa iyyaka.
      mohon kepada ikhwan sekalian jika dari kami ada kekeliruan mohon diingatkan. barakallahu fik akh hafidz

      Reply

  3. fata
    Jul 20, 2011 @ 08:22:57

    Sabda Rosululloh saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yang baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yang buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid’ah dhalalah. Perhatikan hadits beliau saw, bukankah beliau saw menganjurkan?, maksudnya bila kalian mempunyai suatu pendapat atau gagasan baru yang membuat kebaikan atas islam maka perbuatlah.., alangkah indahnya bimbingan Nabi saw yang tidak mencekik ummat, beliau saw tahu bahwa ummatnya bukan hidup untuk 10 atau 100 tahun, tapi ribuan tahun akan berlanjut dan akan muncul kemajuan zaman, modernisasi, kematian ulama, merajalela kemaksiatan, maka tentunya pastilah diperlukan hal hal yang baru demi menjaga muslimin lebih terjaga dalam kemuliaan,demikianlah bentuk kesempurnaan agama ini, yang tetap akan bisa dipakai hingga akhir zaman.
    Kalau kita masih kukuh, pendapat bahwa semua bid’ah sesat…Pertanyaanya…Apakah kita musti ragu dan berani menentang hadist ini??

    Mohon jawaban yg bisa mencerahkan saya brgkli saya khilaf. syukron..

    Reply

    • budi
      Jul 25, 2011 @ 03:26:42

      Silakan baca lengkap teks hadits mulai dari sababul wurudnya….mudah-mudah saudara fata bisa memahaminya bahwa anggapan anda tentang 2 bid’ah di atas keliru. Allahu a’lam

      Reply

    • ben amri
      May 05, 2012 @ 06:36:20

      Berikut lengkap haditsnya:
      Dari Jarir ibn ‘Abdullah Al-Bajali (Semoga Allah merahmatinya) berkata: “Rasulullah Shallalahu ‘alaihi wassalam berkata: “Barangsiapa menjalankan suatu sunnah yang baik , maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa menjalankan suatu sunnah yang buruk dalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya.” (HR. al-Tirmidhi, no. 2675. Beliau mengatakan, hadits ini sahih hasan)

      Ada sebuah cerita mengenai hadits diatas, yang akan menjelaskan “Barangsiapa menjalankan suatu sunnah yang baik…” (lengkap hadits yang mereka ubah maknanya):

      Imam Muslim meriwayatkan berita ini dari Jarir ibn ‘Abdullah, yang juga syarah dari hadits itu sendiri.

      Beliau berkata: “Beberapa orang Badui datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam dengan memakai pakaian yang terbuat dari kain wol. Beliau melihat bahwa mereka dalam keadaan yang miskin (susah) dan berputus asa, sehingga beliau mendesak masyarakat untuk memberikannya sedekah. Mereka ini orang yang sangat lambat responnya, dan terlihat dari wajahnya (mereka seperti orang yang sedang kebingungan). Kemudian seorang laki-laki Anshar memberikannya sebuah kantung perak, maka yang lain dengan serta merta datang ikut memberi sedekah kepadanya dengan wajah yang penuh sukacita. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berkata: “Barang siapa yang menjalankan suatu sunnah yang baik didalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barang siapa yang menjalankan suatu sunnah yang buruk didalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya.” (HR. Imam Muslim, no. 1017).

      Penjelasan yang lebih lanjut dapat kita temukan dalam riwayat yang ditulis oleh an-Nisaa’i, juga dari Jarir ibn Abdullah (Semoga Allah merahmatinya) yang mengatakan: “Kami bersama Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassallam dini hari, ketika beberapa orang (yang hampir telanjang tidak berpakaian dengan benar, pent.) dan tidak beralas kaki, dengan pedang disampingnya, datang kepadanya. Wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam berubah ketika beliau melihat keadaan mereka yang miskin (sedang kebingungan, pent.). Kemudian beliau Shallallahu ‘alaihi wassalam mengunjungi tempat mereka, dan memerintahkan sahabat Bilal untuk menyerukan orang-orang untuk mendo’akan mereka.
      Beliau kemudian memimpin orang-orang dalam do’a, maka beliau memanggil mereka, dan berkata: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan istrinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. “[QS. Al-Nisaa': 1].
      ” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat)…” [QS. Al-Hashr:18].

      Maka mulailah orang-orang bersedekah dari dinar, dirham, pakaianya, gandumnya meski hanya setengah. Seorang pria dari kalangan Anshar memberikan sebuah kantong (yang dia bawa dengan tangannya, pent.), kemudian yang lain berdatangan, hingga sampai ada diantara mereka dua tumpukan makanan dan pakaian, dan aku melihat wajah dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wassalam penuh suka cita berkata: “Barang siapa yang menjalankan suatu sunnah yang baik didalam Islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yang mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barang siapa yang menjalankan suatu sunnah yang buruk didalam Islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yang mengikutinya dan tidak dikurangkan sedikitpun dari dosanya.” (Diriwayatkan oleh an-Nisaa’i dalam Al-Mujtaba: Kitab al-Zakaat, BAB al-Tahreed ‘ala al-Sadaqah).

      Dari konteks cerita diatas, jelas sudah bahwa apa yang dimaksudkan oleh kata-kata “Man Sanna Fil Islami Sunnatan Hasanatan (Barangsiapa manjalankan sesuatu yang baik (sunnah hasanah))” maksudnya adalah: Barang siapa yang menghidupkan, mengamalkan dalam Islam salah satu bagian dari Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wassalam atau mengajarkan sesuatu yang baik untuk orang lain, atau perintah untuk mengikutinya, atau bertindak sesuai dengan yang dituntunkan oleh Rasul-Nya sehingga orang lain melihat atau mendengar tentang hal ini dan mengikuti contoh sunnah tersebut maka ia mendapatkan pahala kebaikkan sebanyak orang yang mengikutinya.

      Reply

      • ahmad
        Jun 10, 2012 @ 07:21:27

        lalu makna man sanna fil islami sunnatan sayyiatan gmn?

        Reply

        • Aditya Budiman
          Jun 13, 2012 @ 01:04:08

          kami rasa penanya sudah dapat menyimpulkan sendiri jawaban dari pertanyaannya merujuk komentar saudara ben amri. Allahu a’lam.

  4. asSafanjany
    Feb 26, 2012 @ 09:03:57

    Bagaimana dengan Pengumpulan Mushaf alQur’an dizaman AbuBakar, atas inisiatif Umar, yang pada mulanya ditentang AbuBakar, karena juga dianggap bid’ah, lantaran tidak ada wasiat -peesan atau contoh dari Nabi SAW. tapi kemudian AbuBakar akhirnya menerima? Bahkan saat AbuBakar mnunjuk Zaid bin Tsabit, ia juga padamulanya bersikap seperti AbuBakar, tapi kemudian pula menerima. Apakah kita mau katakan, bahwa alQur’an bukan urusan Agama?

    Bagaimana juga Sholat tarowih 20 Rokaat sambil berjamaah di Negara Sarang Wahaby “Arab Saudy”. yang meniru Umar, dengan kalimatnya yang trkenaL “ni’matil bid’ah hadzihi!!”. Apakah ArabSaudy kiblat Wahaby, mengajari Bid’ah??

    Reply

    • Aditya Budiman
      Feb 27, 2012 @ 01:43:31

      Saudaraku asSafjany mudah-mudahan Allah senantiasa melimpahkan hidayahnya kepada kita. Kita sama-sama mengetahui salah satu nama Al Quran adalah Al Kitab dan itu Allah sebutkan dalam Al Qur’an, lalu apakah makna Al Kitab? Sependek dan sedangkal pengetahuan kami, salah satu makna kitab adalah mengandung kata-kata Jam’u yaitu mengandung makna yang dikumpulkan…Untuk shalat tarawih 20 rokaat, memang terjadi perselisihan diantara para ulama. namun yang lebih rojih -Insya Allah- 11 rokaat bersama witir. karena itulah yang dikerjakan Nabi dan sebaik-baik petunjuk adalah Petunjuk Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam. kemudian tentang perkataan Khalifah ‘Umar Rodhiyallahu ‘Anhu maka yang dimaksud bid’ah dalam perkataan beliau adalah bid’ah secara bahasa bukan secara istilah syari’at. hal ini bisa kita lihat karena pada mulanya sholat tarawih dikerjakan Nabi Shollallahu ‘Alaihi wa Sallam di mesjid namun kemudian Beliau meninggalkannya karena takut menjadi suatu kewajiban karena wahyu masih terus berlangsung. mengenai negeri Arab Saudi dan Wahabi, apa dasar tuduhan anda wahai saudaraku….Allahu a’lam bish Showab.

      Reply

      • ahmad
        Jun 10, 2012 @ 07:29:05

        aditya, saudaraku fi islam. sesungguhnya riwayat tentang umar yang memerintahkan shalat tarawih berjamaah adalah benar adanya. ini dapat dilihat dalam tarikh. dan sesungguhnya shalat tarawih sebelum umar adalah sendiri2 tidak berjamaah. dan perkataan umar tentang ini adalah bid’ah yang baik, memang ada riwayatnya..

        Reply

        • Aditya Budiman
          Jun 13, 2012 @ 01:06:14

          benar bahwa perkataan Umar Rodhiyallahu ‘anhu itu ada riwayatnya. namun yang dimaksudkan adalah bid’ah secara bahasa bukan secara istilah syari’at. silahkan saudara kami rulmiyadi ahmad membaca kembali riwayat tersebut secara utuh. Allahu a’lam

  5. bambangtko
    Apr 08, 2012 @ 06:56:00

    Alhamdulillah artikel yg sangat berguna, seingat ana ada satu buku yang sangat bagus yang mengupas tentang bid’ah yaitu Ilmu Ushul Al Bida’ yang dikarang oleh Syaikh Ali Hasan. Bagi antum yg ingin memahami tentang bid’ah ana mereferensikan buku ini.

    Reply

    • bagus
      Jun 01, 2012 @ 06:12:25

      Alhamdulillah………. Mas Bambangtko, makasi infonya.

      Reply

  6. udi
    Jul 13, 2012 @ 02:41:01

    Assalamualaikum, artikel bagus, namun saya ada sedikit kebingungan bukankah saat kita lahir saat itu juga tingkah laku (segala gerak) kita di dunia ini merupakan ibadah kepada Allah SWT, sehingga apakah bid’ah disini bukannya untuk menjelaskan golongan yg tidak mengakui Islam atau membuat agama baru setelahnya.
    dapat dibantu pencerahannya, wassalamualaikum.

    Reply

Leave a Reply