Musibah [Sebab, Obat dan Hikmahnya]

13 Dec

Share

Musibah [Sebab, Obat dan Hikmahnya]

Pembaca yang semoga dirahmati Allah ‘Azza wa Jalla, musibah…merupakan suatu kata yang tak jarang kita dengar bahkan telah akrab di telinga kita dalam beberapa tahun terakhir ini terutama di bumi pertiwi. Musibah tersebut berupa gempa bumi, tanah longsor dan lain-lain. Banyak pihak yang mengklaim bahwa musibah ini terjadi karena adanya ini dan itu, datang orang lain lagi yang mengklaim karena ini dan itu, begitu seterusnya. Namun bagaimanakah islam memandang musibah, apa penyebabnya dan apa obatnya serta apa hikmahnya maka pada kesempatan kali ini marilah kita pelajari sekelumit dari sebab-sebab musibah tersebut, apa obatnya dan hikmahnya sehingga kita menyembuhkan penyakit yang ada dengan merealisasikan obatnya  dam mengambil pelajaran darinya dalam kehidupan sehari-hari. Namun demikian apa yang insya Allah akan kami paparkan di sini hanya sekelumit dan tidak lain hanya merupakan upaya untuk mengingatkan diri kita semua.

Makna Musibah

Abul Sa’adaat Al Mubarok bin Muhammad Al Jazariy rahimahullah mengatakan,

Musibah adalah suatu perkara yang menghinggapi manusia dan mereka membencinya[1].

Syaikh Salim Al Hilaliy hafidzahullah mengatakan bahwa

musibah sama dengan azab dan azab sama dengan musibah[2].

Maka inilah pengertian musibah yang insya Allah akan kami bahas pada kesempatan kali ini.

Sebab Turunnya Musibah

Sudah menjadi sunnatullah di muka bumi Allah ini adanya hukum sebab akibat, sudah barang tentu musibah yang banyak kita alami pada tahun-tahun terakhir ini pasti ada sebabnya. Salah satu sebabnya dan ini merupakan sebab terbesar sebagaimana yang disebutkan Allah ‘Azza wa Jalla di dalam kitabNya yang Mulia,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar, taubat)”. (QS. Ar Ruum [30] : 41)

Ibnu Zaid rahimahullah mengatakan yang dimaksud dengan : perbuatan tangan manusiadalam ayat di di atas adalah dosa-dosa. Ibnul Qoyyim rahimahullah mengatakan, “bahwa yang menjadi sebab Allah menampakkan sebagian kerusakan di muka adalah dosa-dosa”. Maka lanjutan ayat (yang artinya) : “supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka”, yang diamaksud dengan sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka adalah sebahagian akibat dari dosa-dosa yang mereka kerjakan.

Dengan demikian sebab kerusakan-kerusakan yang tampak di muka bumi berupa berbagai kekurangan, bahaya, kesedihan, penyakit dan lain sebagainya yang Allah tampakkan adalah kemaksiatan yang dilakukan oleh hamba-hambaNya, setiap hambaNya melakukan kemaksiatan maka Allah ‘Azza wa Jalla akan timpakan kepada mereka bencana sebagai hukuman atas perbuatan mereka[3].

Dari dua penjelasan ‘ulama di atas maka jelaslah bagi kita sebab bencana dan musibah yang kita alami adalah karena perbuatan maksiat yang dilakukan oleh manusia.

Meskipun demikian musibah yang kita rasakan saat ini hanyalah sebagian kecil dari akibat dosa-dosa yang telah kita perbuat, sekiranya ditimpakan seluruh akibat dari dosa-dosa yang telah kita perbuat niscaya tidak ada seekor binatang pun yang dibiarkan hidup di muka bumi ini[4].

Dosa Kesyirikan adalah Sebab Pertama dan Terbesar Turunnya Musibah

Saudara-saudaraku seagama yang semoga kita selalu diberikan rahmat dan taufiqNya, ketahuilah kemaksiatan/dosa yang paling besar yang dilakukan manusia di muka bumi ini bukanlah korupsi melainkan ia adalah sebuah perbuatan yang kebanyakan dari kaum muslimin sendiri tidak mengetahui hakikatnya yaitu, perbuatan syirik kepada Penciptanya, yakni Allah ‘Azza wa Jalla sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam kitabNya yang mulia :

إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ

“Sesungguhnya kesyirikan itu adalah benar-benar  kedholiman (kemaksiatan) yang besar(QS. Luqman [31] : 13)

Bahkan syirik adalah sebuah dosa yang tidak Allah ampuni jika seseorang tidak bertaubat darinya sebelum dia mati, padahal Allah ‘Azza wa Jalla  Dzat yang Maha Pengampun, Dzat yang rahmatNya mendahului murkaNya, bahkan hal ini sebagaimana yang dikatakan Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin rahimahullah, karena kesyirikan adalah bentuk pelanggaran terbesar terhadap hak Allah ‘Azza wa Jalla[5]. Sebagaimana dalam firman Allah Ta’ala,

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu apapun) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu apapun) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat (dari kebanaran[6]) dengan kesesatan yang amat jauh”. (QS. An Nisaa’ [4] : 116)

Maka jelaslah bagi kita bahwa kesyirikan adalah kemaksiatan/dosa yang paling parah yang dilakukan hamba kepada Robbnya dan tidak akan diampuni Allah sampai seorang hamba bertaubat darinya.

Obat Kesyirikan adalah Tauhid

Lalu apakah obatnya dari penyakit kesyirikan ini ? Maka jawabnya sudah barang tentu adalah kebalikan dari kesyirikan yaitu mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dengan sebenar-benar tauhid. Tauhid adalah mengesakan Allah dalam hal-hal yang merupakan kekhususan Allah yang meliputi Rububiyah (Allah adalah Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta, pen.), Uluhiyah (Allah adalah satu-satunya  Dzat yang berhak disembah, pen.) dan Asma’ wa Shifat (nama-nama dan shifat, pen.)[7]. Tentulah tauhid yang kita maksudkan di sini harus berdasarkan ilmu yaitu berdasarkan Kitabullah dan Sunnah NabiNya shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan pemahaman para ulama salafush sholeh dari kalangan para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik.

Kejahilan adalah Sebab kedua Turunya Musibah

Kemudian sebab yang kedua adalah jahilnya/bodohnya sebagian besar ummat islam terhadap agama mereka, yang ini merupakan suatu hal yang kita lihat bersama. Berapa banyak kaum muslimin yang ketika ditanya dimana Allah? Maka jawaban yang kita dapatkan tidak jarang mereka menjawab dengan jawaban yang tidak semestinya keluar dari lisan seorang muslim, semisal jawaban Allah itu ada dimana-mana, Allah itu ada di hati saya dan lain sebagainya. Demikian juga dalam masalah ibadah lainnya, semisal sholat yang ia merupakan tiang agama, tak jarang dari mereka yang sholat hanya mengikut apa yang dilakukan masyarakat awwam tanpa tahu dalilnya mengapa dan dari nabikah gerakan dan bacaan sholat demikian. Padahal telah tegas Allah Subhanahu wa Ta’ala tegaskan dalam firmanNya,

الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى

“Ar Rahman (Allah) beristiwa’ di atas ArsyNya” (QS. Thaha  [20] : 5)

Demikian juga telah tegas perintah dari Rosulul Islam Muhammad bin Abdullah shallallahu ‘alaihi was sallam dalam haditsnya,

صَلُّوا كَمَا رَأَيْتُمُونِى أُصَلِّى

“Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam) sholat”[8].

Maka telah benarlah apa yang dikatakan oleh Nabi kita, Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا ، يَنْتَزِعُهُ مِنَ الْعِبَادِ ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا ، اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالاً فَسُئِلُوا ، فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ ، فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا

“Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu (agama, pen.) dengan serta-merta dari hamba-hamba Nya. Tetapi, Allah mencabut ilmu dengan mewafatkan ulama, sehingga Allah tidak menyisakan ulama’. Maka, manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai pemimpin. Lalu, mereka ditanya, dan mereka memberi fatwa tanpa ilmu, maka mereka telah sesat dan menyesatkan (orang lain, pen.)[9].

Demikian juga sabda Nabi yang Mulia shallallahu ‘alaihi wa sallam,

سَيَأْتِى عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الأَمِينُ وَيَنْطِقُ فِيهَا الرُّوَيْبِضَةُ قِيلَ وَمَا الرُّوَيْبِضَةُ قَالَ الرَّجُلُ التَّافِهُ فِى أَمْرِ الْعَامَّةِ

“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang menipu, orang yang berdusta dibenarkan, orang yang berkhianat diberi amanat, orang yang amanat dianggap khianat dan akan ada Ruwaibidhah”. Para sahabat bertanya, “Apa itu Ruwaibidhah?” Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan : “Orang yang hina lagi jahil (berbicara tentang, pen.) urusan orang banyak”[10].

Mereka  mengambil urusan agama mereka dari orang-orang kecil yang jahil dan meninggalkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam dan penjelasan para ‘ulama padahal Allah Robbul ‘Alamin telah berfirman,

فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ

“Jika kalian berselisih pendapat tentang sesuatu maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur’an) dan Rosul (Hadits Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam ketika beliau telah wafat)”[11]. (QS. An Nisaa’  [4] : 59).

Demikian juga firman Allah ‘azza wa jalla,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kepada ahli dzikr (para ‘ulama) jika kalian tidak tahu”. (QS. Al Anbiya’  [21] : 7).

Obat Jahil terhadap Agama adalah Menuntut Ilmu Agama

Maka obat dari penyakit yang kedua ini adalah menuntut ilmu agama, dan ia adalah suatu yang wajib bagi setiap muslim dan muslimah sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ

“Menuntut ilmu (agama, pen.)hukumnya wajib bagi setiap muslim”[12].

Dan tidak diragukan lagi bahwa kata muslim dalam hadits ini mencakup muslim dan muslimah sebagaimana yang telah ma’ruf dalam kaidah fiqh. Inilah dua dari sekian banyak sebab turunnya berbagai macam adzab Allah beserta obatnya.

Hikmah di Balik Musibah

Para pembaca semoga Allah jauhkan kita dari dua penyakit dan sebab kerusakan di atas. Musibah yang kita alami saat ini tentu memiliki hikmah yang banyak karena ia berasal dari Dzat yang Maha Hikmah yaitu Allah ‘azza wa jalla, yang mana tidaklah Dia menciptakan sesuatu sia-sia, firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاءَ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا بَاطِلًا

“Dan tidaklah Kami[13] menciptakan langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya sia-sia[14]”.(QS. Shood  [37] : 27).

Termasuk apa yang Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan adalah musibah.

Dampak Taubat Terhadap Dosa

Diantara sekian banyak hikmah musibah yang Allah berikan keapada hambanya adalah sebagai peringatan agar mereka kembali/bertaubat kepadaNya. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali/bertaubat[15]”. (QS. Ar Ruum [30] : 41)

Musibah yang kita hadapi ini tidaklah ada apa-apanya jika kita bandingkan dengan musibah yang menimpa orang tua kita Adam ‘alaihissalam yaitu dikeluarkan dari Surga tempat yang penuh kenikmatan setelah dulu pernah merasakannya. Maka disebabkan tobatnya yang sempurna, Allah anugrahkan kepadanya kenabian, Allah terima taubatnya, Allah berikan ia petunjuk berupa hidayah & Allah angkat derajatnya. Kalaulah bukan sebab –keinginan Allah kemudian pen.- cobaan yang Allah berikan kepadanya berupa dikeluarkan dari surga maka tidaklah beliau ‘’alaihissalam mendapatkan kenikmatan di atas. Lihatlah keadaan beliau setelah berbuat keasalahan dan Allah timpakan kepadanya musibah kemudian ia bertaubat dengan sebenar-benar taubat lebih mulia daripada keadaan sebelumnya[16].

Musibah Sebagai Penghapus Dosa

Hikmah dari musibah yang tak kalah agungnya dibanding hal di atas adalah sabar. Jika Allah timpakan kepada seorang hamba musibah apabila ia bersabar maka musibah tersebut merupakan penghapus dosa[17] baginya[18], sebagaimana sabda Nabi yang Mulia ‘alaihish sholatu was salam,

مَا يَزَالُ الْبَلاَءُ بِالْمُؤْمِنِ وَالْمُؤْمِنَةِ فِى نَفْسِهِ وَوَلَدِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَلْقَى اللَّهَ وَمَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

“Akan senantiasa seorang laki-laki dan perempuan yang beriman ditimpa musibah pada jiwanya, anaknya dan hartanya sampai ia bertemu dengan Allah dalam keadaan tidak memiliki dosa/salah”[19].

Musibah Merupakan Nikmat

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rohimahullah mengatakan, “Musibah merupakan nikmat karena ia merupakan pengahapus dosa, juga merupakan suatu hal yang melahirkan (mendorong diri untuk) sabar sehingga mendapatkan pahala sabar, merupakan suatu hal yang melahirkan (mendorong diri untuk) kembali kepada Allah dengan keta’atan/inabah, merendahkan diri dihadapanNya dan menghindar dari pandangan manusia (sehingga jauh dari riya’ pen.)”. akan tetapi beliau rohimahullah mengaitkan hal ini dengan sabar dan tidak berlaku apabila seorang hamba ditimpa musibah kemudian ia meninggalkan hal-hal yang wajib atau melakukan sebagian maksiat[20]. Kemudian perhatikanlah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala tentang balasan bagi orang yang sabar,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. (QS. Az Zumar [39] : 10)

Dan sabar adalah dimulai pada saat awal musibah menimpa kita, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi was sallam,

الصَّبْرُ عِنْدَ الصَّدْمَةِ الْأُولَى

“(Sesungguhnya yang dikatakan) Sabar adalah sabar pada awal sesuatu yang dibenci”.[21]

Musibah Merupakan Tanda Cinta Allah pada HambaNya yang Ridho

Rosulullah shallallahu ‘alaihi was sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

“Sesungguhnya besarnya balasan sesuai dengan besarnya cobaan. Dan sesungguhnya Allah jika Ia mencintai suatu kaum maka Allah akan coba/timpakan pada mereka musibah, barangsiapa yang ridho maka baginya ridho Allah dan barangsiapa yang marah terhadap cobaan/musibah dari Allah mak baginya murka Allah”[22].

Ibnu ‘Aun rohimahullah mengatakan, “Ketahuilah, sesungguhnya seorang hamba tidaklah mencapai hakikat dari ridho sampai dia menjadikan ridhonya ketika tertimpa kefakiran dan musibah sebagaimana ridhonya ketika diberikan kecukupan dan kesenagan/kelapangan[23].

Dengan demikian kami mengajak diri kami sendiri dan para pembaca sekalian untuk marilah kita mewaspadai dua penyakit di atas dengan giat menuntut ilmu agama dan diiringi dengan mengamalkannya serta melaksanakan apa yang menjadi kewajiban orang yang ditimpa musibah yaitu , bertaubat, bersabar, lebih jauh lagi dianjurkan untuk ridho terhadapnya.  Allahu A’lam bish Showab.

Al Faaqir ilaa Maghfiroti Robbihi,

Aditya Budiman


[1] An Nihayah fi Ghoribil Atsar Ibnul Atsir oleh Abul Sa’adaat Al Mubarok bin Muhammad Al Jazariy hal. 119/III, dengan tahqiq oleh Thohir Ahmad Az Zaawiy, terbitan Maktabah Ilmiyah Beirut, Lebanon.

[2] Lihat ceramah Beliau yang berjudul Musibah dan Azab yang dilaksanakan di Masjid Istiqlal Jakarta pada Sabtu, 10 Februari 2007.

[3] Lihat lihat Ad Daa’u wad Dawa’u oleh Ibnu Qoyyim Al Jauziyahrahimahullah- dengan tahqiq Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halaby –hafidzahullah-, hal 100, Terbitan Dar Ibnul Jauzy, Riyadh, cetakan ke dua.

[4] Idem.

[5] Lihat Al Quolul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, hal. 113 terbitan Dar Ibnul Jauzy, Riyadh, cetakan kedua.

[6] Lihat Tafsir Jalalain Li Imamaini Al Jalilaini Muhammad bin Ahmad Al Mahalli dan Abdurrahman bin Abi Bakr As Suyuthi, dengan ta’liq dari Syaikh Shofiyurrahman Al Mubarokfuri hal. 106, terbitan Darus Salam, Riyadh, cetakan kedua.

[7] Lihat Al Quolul Mufid ‘ala Kitabit Tauhid, hal. 8 terbitan Dar Ibnul Jauzy, Riyadh, cetakan kedua.

[8] HR. Bukhori no. 630.

[9] HR. Bukhori no. 100

[10] HR. Ibnu Majah no. 4172 dan dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1887 [Asy Syamilah].

[11] Lihat Tafsir Jalalain hal. 96.

[12] HR. Ibnu Majah no. 229 dan dinyatakan shahih oleh Al Albani dalam Takhrij Ahaadits Musykilatul Fiqr no. 226. [Asy Syamilah]

[13] Faidah Tambahan : Kata-kata kami dalam Al Qur’an dalam ayat semisal ini bukanlah berarti Allah ‘azza wa jalla itu berbilang akan tetapi hal ini merupakan gaya bahasa untuk mengagungkan sesuatu yang tunggal disebutkan dengan bentuk jama’. [lihat Tafsir Surat Al Kahfi Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah hal. 26 terbitan Dar Ibnul Jauziy, Riyadh, KSA].

[14] Lihat Tafsir Jalalain hal. 466.

[15] Idem hal. 419.

[16] Lihat Miftah Daaris Sa’adah oleh Ibnu Qoyyim Al Jauziyah rohimahullah hal. 302/II, dengan tahqiq dari Fadhilatusy Syaikh ‘Ali bin Hasan Al Halaby hafidzahullah, terbitan Dar Ibnu ‘Affan, Kairo, Mesir.

[17] Dengan catatan apabila dosa tersebut berada di bawah dosa kesyirikan dan dosa besar yang harus bertaubat darinya.

[18] Lihat Syarh Riyadush Sholihin oleh Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin rohimahullah hal. 140/I cetakan Darul Aqidah, Kairo, Mesir.

[19] HR. At Tirmidzi no. 2399, hadits ini dinyatakan Hasan Shohih oleh Al Albani rohimahullah dalam takhrij beliu untuk Sunan At Tirmidzi hal. 431 terbitan Maktabah Ma’arif, Riyadh, KSA.

[20]Lihat Taisil ‘Azizil Hamiid fi Syarhi Kitabit Tauhid oleh Syaikh Sulaiman bin Abdullah, hal. 446-447, dengan tahqiq oleh Syaikh Zuhair Asy Syawis, terbitan Al Maktab Al Islamiy, Beirut, Lebanon.

[21] HR. Bukhori no. 1252, Muslim no. 2136.

[22] HR. Tirmidzi no. 2396, , hadits ini dinyatakan Hasan Shohih oleh Al Albani rohimahullah dalam takhrij beliu untuk Sunan At Tirmidzi hal. 540.

[23] Lihat Taisil ‘Azizil Hamiid fi Syarhi Kitabit Tauhid hal. 451.

Tulisan Terkait

2 Comments ( ikut berdiskusi? )

  1. abdul hamid
    Dec 28, 2010 @ 23:37:22

    mohon ijin paste yasemoga bermanfaat

    Reply

Leave a Reply