Siapa Bilang Pacaran Haram ??

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Siapa Bilang Pacaran Haram ??

Segala puji hanya milik Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya kepadaNya kita memuji, meminta tolong, memohon ampunan, bertaubat dan memohon perlindungan atas kejelekan-kejelekan diri dan amal-amal yang buruk. Barangsiapa yang diberi Allah petunjuk maka tidak ada yang dapat menyesesatkannya dan barangsiapa yang Allah sesatkan maka tidak ada yang dapat memberikannya hidayah taufik. Aku bersaksi bahwasanya tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah dan tiada sekutu baginya. Aku bersaksi bahwasanya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah hambaNya dan UtusanNya. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, keluarganya dan para sahabatnya ridwanulloh ‘alaihim jami’an.

Adalah suatu hal yang telah menyebar luas dikalangan masyarakat sebuah kebiasaan yang terlarang dalam islam namun sadar tak sadar telah menjadi suatu hal yang sangat sering kita lihat bahkan sebahagian orang menganggapnya adalah suatu hal yang boleh-boleh saja, kebiasan tersebut adalah apa yang disebut sebagai pacaran. Oleh karena itu maka penulis mencoba untuk memaparkan sedikit tinjauan islam tentang hal ini dengan harapan penulis dan pembaca sekalian dapat memahami bagaimana islam memandang pacaran serta kemudian dapat menjauhinya.

Pacaran yang dikenal secara umum adalah suatu jalinan hubungan cinta kasih antara dua orang yang berbeda jenis yang bukan mahrom dengan anggapan sebagai persiapan untuk saling mengenal sebelum akhirnya menikah[1].

Inilah mungkin definisi pacaran yang banyak tersebar dikalangan muda-mudi. Maka atas dasar inilah kebanyakan orang menganggap bahwa hal ini adalah suatu yang boleh-boleh saja, bahkan lebih parahnya lagi dianggap aneh kalau menikah tanpa pacaran terlebih dahulu –wal ‘iyyadzubillah –. Lalu jika demikian bagaimanakah tinjauan islam tentang hal ini? Berikut penulis coba jelaskan sedikit kepada pembaca –sesuai dengan ilmu yang sampai kepada penulis– bagaimana islam memandang pacaran.

Pacaran adalah suatu yang sudah jelas keharamannya dalam islam, dalil tentang hal ini banyak sekali diantaranya adalah firman Allah ‘Azza wa Jalla :

وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan seburuk-buruk jalan”. (Al Isra’ [17] : 32).

Ayat ini adalah dalil tegas yang menunjukkan haramnya pacaran.

Berkaitan dengan ayat ini seorang ahli tafsir Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’di rahimahullah- mengatakan dalam tafsirnya,

Larangan mendekati suatu perbuatan nilainya lebih daripada semata-mata larangan melakukan suatu perbuatan karena larangan mendekati suatu perbuatan mencakup larangan seluruh hal yang dapat menjadi pembuka/jalan dan dorongan untuk melakukan perbuatan yang dilarang”.

Kemudian Beliau –rahimahullah- menambahkan sebuah kaidah yang penting dalam hal ini,

Barangsiapa yang mendekati suatu perbuatan yang terlarang maka dikhawatirkan dia terjatuh pada suatu yang dilarang[2].

Hal senada juga sebelumnya dikatakan penulis Tafsir Jalalain demikian juga Asy Syaukanirahimahullah- namun Beliau menambahkan, “Jika suatu yang haram itu telah dilarang maka jalan menuju keharaman tersebut juga dilarang dengan melihat maksud pembicaran[3]. Bahkan diakatakan oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaiminrahimahullah-,termasuk dalam ayat ini larangan melihat wanita yang bukan istrinya (yang tidak halal baginya, pen.), mendengarkan suaranya, menyentuhnya, sama saja apakah ketika itu dia sengaja untuk bersenang-senang dengannya ataupun tidak”[4]. Dari penjelasan para ulama ini jelaslah bahwa pacaran dalam islam hukumnya haram karena pacaran termasuk dalam perkara menuju zina yang Allah haramkan ummat nabiNya untuk mendekatinya.

Jika ada yang mengatakan bahwa pacaran belumlah dapat dikatakan sebagai perbuatan menuju zina, maka kita katakan kepadanya bukankah orang yang paling tahu tentang perkara yang dapat mendekatkan ummatnya ke surga dan menjauhkannya dari api neraka telah mengatakan :

وَ احْفَظُوْا فُرُوْجَكُمْ وَ غَضُّوْا أَبْصَارَكُمْ وَ كَفُّوْا أَيْدِيَكُمْ

Jagalah kemaluan kalian, tundukkanlah pandangan-pandangan kalian dan tahanlah tangan-tangan kalian”.[5]

Dalam hadits yang mulia ini terdapat perintah untuk menundukkan pandangan dan

hukum asal dari suatu perintah baik itu perintah Allah ‘Azza wa Jalla ataupun perintah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah wajib dan adanya tunututan untuk melaksanakan apa yang diperintahkan dengan segera[6].

Maka jelaslah bahwa pacaran adalah suatu yang diharamkan dalam islam.

Kemudian jika ada yang mengatakan kalau seandainya pacaran tidak dibolehkan maka bagaimanakah dua orang insan bisa menikah padahal mereka belum saling kenal?

Maka kita katakan pada orang yang beralasan demikian dengan jawaban yang singkat namun tegas bukankah petunjuk Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik petunjuk? Bukankah Beliau adalah orang yang paling kasih kepada ummatnya tidak memberikan petunjuk yang demikian? Firman Allah ‘Azza wa Jalla,

لَقَدْ جَاءَكُمْ رَسُولٌ مِنْ أَنْفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, amt berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin”. (At Taubah [9] : 128).

Kata حَرِيصٌ عَلَيْكُمْ pada ayat di atas ditafsirkan oleh Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’dirahimahullah- berarti bahwa, “Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang mencintai kebaikan kepada kita ummatnya, mengerahkan seluruh kesungguhannya dalam rangka menyampaikan kebaikan kepada mereka, bersemangat untuk dapat memberikan hidayah (irsyad, pent.) berupa iman kepada mereka, tidak suka jika kejelekan menimpa mereka dan menegerahkan seluruh usahanya untuk menjauhkan mereka dari kejelekan[7]. Dengan demikian ayat di atas jelas menunjukkan bahwa Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling kasih pada ummatnya dan paling menginginkan kebaikan untuk mereka namun Beliau tidaklah mengajarkan kepada ummatnya yang demikian. Simak pula sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam :

إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ

Sesungguhnya tidak ada Nabi sebelumku kecuali wajib baginya menunjukkan kepada umatnya kebaikan yang dia ketahui untuk umatnya, dan mengingatkan semua kejelekan yang dia ketahui bagi umatnya…”.[8]

Maka hendak kemanakah lari orang yang berpendapat kalau seandainya pacaran tidak dibolehkan maka bagaimanakah dua orang insan bisa menikah padahal mereka belum saling kenal? Bukankah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkan dan mempraktekkan bagaimana tatacara menuju pernikahan? Apakah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengajarkan kepada kita  cara mencari pasangan hidup dengan pacaran? Wahai pengikut hawa nafsu hendak kemanakah lagi engkau palingkan sesuatu yang telah jelas dan gamblang ini ??!!!

Kalau seandainya yang demikian dapat mengantarkan kepada kebaikan tentulah Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam telah mengajarkannya kepada kita.

Sebagai penutup kami nukilkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang posisi shaf laki-laki dan perempuan dalam sholat, Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan :

خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا

Sebaik-baik shaf laki-laki adalah yang pertama, sejelek-jeleknya adalah yang paling akhir dan Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang paling akhir, sejelek-jeleknya adalah adalah yang paling awal”.[9]

Maka renungkan wahai saudaraku

apakah lebih layak orang –bukan suami istri­­– yang tidak sedang dalam keadaan beribadah kepada Allah untuk berdekatan, berdua-duan dan bermesra-mesraan serta merasa aman dari perbuatan menuju zina padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia mengatakan yang demikian !!!??

Bukankah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menyatakan :

ما نَهَيتُكُمْ عَنْهُ ، فاجْتَنِبوهُ

“Semua perkara yang aku larang maka jauhilah[10]

Allahu Ta’ala a’lam bish showaab, mudah-mudahan yang sedikit ini dapat menjadi renungan bagi orang-orang yang masih melakukannya dan bagi kita yang tidak mudah-mudahan Allah jaga anak keturunan kita darinya.

Menjelang malam, 17 Jumadi Tsaniyah 1430/11 Juni 2009.

Abu Halim Budi bin Usman As Sigambali

Yang selalu mengharap ampunan Robbnya


[1] Jika tujuannya seperti ini saja terlarang bagaimana jika tidak dengan tujuan yang demikian semisal hanya ingin berbagi rasa duka dan bahagia ??!! Tentulah hukumnya lebih layak untuk dikatakan haram.

[2] Lihat Taisir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan hal. 431 terbitan Dar Ibnu Hazm Beirut, Libanon.

[3] Lihat Fathul Qodhir hal. 258, terbitan Maktabah Syamilah.

[4] Lihat Syarh Al Kabair hal. 60 terbitan Darul Kutub Al Ilmiyah, Beirut, Lebanon.

[5] HR. Ibnu Khuzaimah no. 91/III, Ibnu Hibban no. 107, Al Hakim no. 358-359/IV, Ahmad no. 323/V, Thobroni no. 49/I dan Baihaqi no. 47/II, dan dihasankan oleh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1525.

[6] Lihat Ushul Min Ilmi Ushul oleh Syaikh Muhammad bin Sholeh Al ‘Utsaimin –rahimahullah– hal. 24 terbitan Darul Aqidah Iskandariyah, Mesir.

[7] Lihat Taisir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalaamil Mannan hal. 334 terbitan Dar Ibnu Hazm Beirut, Libanon.

[8] HR. Muslim no. 1844 dari jalan Ibnu Amr radhiyallahu ‘anhu.

[9] HR. Muslim no. 132 dan lain-lain.

[10] HR. Bukhori no. 7288, Muslim no. 1337.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

  1. assalamu’alaikum….
    begini saya punya temen kata temen saya harus pacaran dulu sebelum menikah tapi saya nya enggak mau..
    terus temen saya tetep saja keras kepala gimana ya caranya menasihati orang seperti itu ya supaya dia percaya kalo pacaran itu haram???
    sudah gitu aja tolong dijawab…

  2. Pacaran hanya menggeser nikmat2 yg tlah Allah berikan, sama skali tidak ada manfaatnya. Ada baiknya ta’arufan kmudian menikah, pacaran saat menikah itulah yang paling berkesan. :)

  3. Pacaran menurut agama islam kan haram. Lalu bagaimana cara kita dalam memilih pasangan hidup kelak?
    Sebelum menikah bukannya kita juga harus tau sifat-sifat calon pasangan hidup kita? Khawatirnya setelah menikah baru kita menyesal salah memilih orang.
    Banyak orang yang sudah menikah berkata, “kenalilah dulu calon pasangan hidupmu, jangan sampai menyesal setelah menikah”.
    Pertanyaan saya, bagaimana cara memilih pasangan hidup kita tanpa melalui pacaran?
    *seandainya dikatakan taaruf, bukannya taaruf itu sebentar, tidak memakan waktu yang lama? Bagaimana kita tau sifat asli calon pasangan hidup kita tersebut kalau dalam jangka waktu yang sebentar seperti itu?

  4. assalamu’alaikum wr.wb
    begini mas, saya cinta pada seorang wanita saya tau dia juga suka sama saya. tp saya tidak mau menjadikannya pacar karena pacaran itu dalam islam haram. pertanyaanya akibat saya tidak mau menjadikan dia pacar dan sering saya jauhi karena saya tidak bisa terlalu dekat dengannya dia jadi seperti tidak lagi memperdulikan saya…? jd sebaiknya apa yang harus saya lakukan? terima kasih waalaikumsalam wr.wb

  5. Assalamuaikum …

    Saya mau Nanya ?
    Apa boleh pacaran tapi tidak pernah begangan tangan . Saling menatap 1 Bagian tubuh pun tidak pernah terkena & Tidak berlebih-lebihan ? Jadii gimana Boleh atau tidak ? Kalo dalam Remaja sih Cinta Monyet gitu ?

  6. Pacaran lebih bnyak mudharatnya drpd manfaatnya, sangat disyangkan sekali bila mada muda dan masa lajang kita hbiskan waktu untuk berpacaran, nanti ibadahnya jg tdk lillahita’ala, tpi karena pacar, pacaran jg dpt menghambat kita untuk berkarya karena pada umumnya hanya memikirkan satu orang “pacarnya”, pdahal msih banyak orang yg perlu untuk kita pikirkan dan kita pedulikan dan yg membutuhkan kita, semoga kita terhindar dari hal yg sudah jelas2 dilarang oleh Allah, dan sudah jelas pula firman Allah, dan hadits hadits yg mnjelaskn ttng ini,

  7. saya punya pacar, saya mengenal agama bru beberapa bulan yang lalu, dulu saya sering berbuat maksiat, saya berniat memutuskan pacar sya namu saya enggan menyakiti perasaannya setelah apa yg saya perbuat pada dirinya, saya hendak menikahinya namu mngkin baru bsa trwujud beberapa tahun kedepan, apakah saya harus meninggaln pacar saya?

  8. Assalamualaikum wr wb.
    Saya mau crta, saat ini saya lgi dalam masalah ini, saya tlah melanggar larangan Allah, tpi saya ingin kembali saya tidak mau lagi pacaran, tapi laki-laki yang dekat dgn saya tidak mau kalau hubungan itu brakhir, dia malah bilang kalau mau belajar agama jangan terlalu mendalami, padahal pacaran itu sudah jelas hukumnya haram. Terima kasih Wa’salammualaikum wr wb

  9. Pengertian pcran apa sih? Beda dengan pcran dengan teman dekat apa sih? Bukanya hanya sekedar status. Kalau pun dilarang pcran seharusnyakan dliarang juga setiap laki” berteman dengan perempuan. Segala kegiatan seperti sekolah dan tempat wisata lainnya. Seharusnya juga dipisahkan kalau memang itu dilarang. Lagian zina bukannya berlandasan hawa nafsu?

    • Melakukan Interaksi antar lawan jenis DALAM KEBAIKAN itu hukumnya adalah MUBAH (BOLEH),bukan wajib maupun haram.
      yang haram itu adlah zinanya,seprti pelukan, gandengan, ciuman dan hal sebagainya.Itu yg di haramkan karena mendekati zina atau bahkan sudah zina itu sendiri. kalo cuman teman yg saling tolong menolong dalam kebaikan,hukumnya boleh-boleh saja. Jadi tak serta merta Interaksi antar lawan jenis itu haram. Contohnya saja taaruf, dalam islam kan dianjurkan, padahal ada interaksi antar lawan jenis pada saat itu.Jadi semuanya tergantung niat kita sendiri, untuk kebaikan (belajar bersama, membantu pada yg membutuhkan, dll), atau Keburukan (pacaran, zina,dll)

  10. Saya pernah pacaran, tapi sekarang udah putus… ya bisa dikatakan putus gak baik2…
    Pertanyaan saya ustad.
    Jika pacaran haram, lalu bagaimana hukumnya mencintai lawan jenis? Lalu bukankah perasaan kasih sayang dari ALLAH (Maryam 96). Dan apakah perasaan kasih sayang itu harusnya setelah nikah (Ar-Ruum 21)?
    Berarti anjuran awal kita disuruh nikah dulu. Dan kalau kita bertujuan ingin menikahi wanita itu (waktu pacaran) salahkah?
    Dan jika kita ingin mencari pasangan (Pedoman Surah An-Nuur) bukankah berarti kita melihat siapa dia dulu?
    lalu bagaimana cara kita mengenal dia, bukankah Al-Quran menyuruh tundukkan pandangan kita?

  11. Saya setuju dengan artikel ini, tapi bukannya judulnya salah ya? Tapi tidak apa karena isinya menuju kebenaran.

  12. Assalamualaikum ustadz.
    Bgini saya punya temen cowo tp kita chat sharing gtu kek partner boleh ga ? kita bertukar pikiran saja sma cewe/cwo ga lebih. Boleh ga ??

  13. Assalamu’alaikum…
    Saya mau nanya pak ustadz. Kalau berteman dekat atau hanya berhubungan sekedar teman sebaiknya juga dihindari, apakah saya harus menutup diri kpd teman2 saya yg lawan jenis?
    Terima kasih atas ilmu nya

  14. Assalamu’alaikum pak ustad
    Apabila kita menjalani hubungan tanpa status (bukan pacaran) tapi itu hanya sekedar penyemangat saja apakah boleh, ustad? Atau kita menyimpan foto fotonya di hp lalu melihat lihatnya apakah tidak boleh?

  15. Pacaran dimata islam itu memang dikatakan haram.dan bahkan termasuk zina,…
    Pertanyaan saya,apakah amal kebaikan kita tidak di terimah di sisi allah Swt.jika saja kita berpacaran ?
    Harap di jawab
    Sekian,,…

  16. Artikelnya bagus…
    Pacaran HARAM,, Trus pertanyaannya gmn dgn yg namax Khitbah atau Ta’arufan apa itu boleh..??? Tks

  17. Assalamu’alaikum pak ustad. Saya ingin tanya. Apabila saya sayang dengan seseorang, saya tidak pacaran dengan orang itu, namun saya tetap berkomunikasi dengan dia melalui line ataupun bbm. Chatnya pun hanya sebatas antara teman biasa. Apakah boleh? Jika tidak boleh, lalu komunikasi seperti apa yg diperbolehkan?

  18. Assalamu’alaikum ustad. Saya mau tanya. Saya sayang dengan seseorang, tapi saya tidak pacaran dengan dia. Saya berkomunikasi dengan dia lewat media sosial seperti line dan bbm. Chatnya pun hanya sebatas antara teman biasa. Apalah boleh? Jika tidak boleh, lantas komunikasi macam apa yg diperbolehkan? Saya bingung ustad karna kan dalam islam bersilaturahmi itu wajib.

  19. Assalamualaikum ya Ustadz.

    Begini ustadz.
    Saya punya teman akhwat. Saya pernah berpacaran dengannya. Saat ini tidak, karena kami telah sadar akan hukum Islam.
    Saat ini, hubungan saya sebatas muamalah saja.

    Saya merasa sangat cocok dengannya. Dengan berpacaran itu saya tahu latar belakang keluarganya, tahu seluk beluk dan sifat-sifatnya, dan sebagainya.

    Saya berencana akan menikahinya 4-5 tahun di masa depan. Apakah itu boleh Ustadz?

    Syukran.

    • عليكم السلام
      Kalo memang sudah cocok langsung datangi org tuanya saja. Kalo masih rencana kami kira kurang tepat. Karena akan membuka pintu masuk bagi syaithon. Allahu a’lam

      • saya punya pacar, saya
        slama ini saya telah melanggar larangan allah , dulu saya sempat putus nyambung dikarenakan saya tidak mau mnyakiti dia akhirnya saya trima lg tapi saya salama ini sama skali tidak mlakukan pegangan tangan atau hal yang tidak diinginkan lainnya , tapi pas ngbrol lwat sms saya pernah bilang gimana kalo kita jarang smsan saja soalnya dianya lagi kerja juga kan ga enak jga smsan trus, tpi dia bilang ga papa,
        saya jd bingung saya berniat memutuskan pacar sya namun saya enggan menyakiti
        perasaannya ,
        apakah saya harus meninggalkan
        pacar saya? Dan kalo ta’aruf gitu gimna caranya cmn hanya di kenalkan orang tua dan sementara kita hrus mnundukan kpala dilarang melihat lawan jnis juga dan hrus dinikahi apa yg dikenalkan orang tua,sementara kalau misalnya orang tua yang pilih saya juga tidak tahu kalau dia itu baik atau tidak nantinya pas nikah,
        menurut ustad tata cara ta’aruf supaya kita tahu orang tersebut baik atau tidaknya gimna? Dan apakah saya harus meninggalkan pacar saya?

        • Aturan Allah harus didahulukan daripada yg lain. Anda harus segera meminta dia menikahi anda. Jika tidak bs dlm waktu dekat maka putus saja. Kalau taaruf diperbolehkan untuk melihat wajah pasangannya. Namun bukan berarti sering. Untuk tahu seseorang dpat ditanya kesehariannya pada ortunya, tetangga, rekan kerja dan lain-lain.

  20. assalamu’alaikum. ustad saya mau nanya, saya di putusi sama pacar saya karena guru kami bilang bahwa pacaran itu tidak boleh, padahal saya masih sayang sama dia, setelah di jalani akirnya saya mengerti bahwa pacaran itu tidak boleh, saya ingin istiqomah untuk tidak pacaran. tapi pikiran saya selalu ke dia, masih teringat kenangan bersama dia. bagaimana cara sya agr tidak terpikir tentang dia terus? apalagi kata teman saya dia malah pacaran sm org lain? saya sakit hati dengan prilakunya? bagaimana juga saya menyikapi nya ustad? sementara saat ini juga saya masih ada rasa sama dia?

  21. Assalamualaikum.. saya mau tanya ust, sebelum nya saya ingin bercerita dulu, saya seorang pelajar ada seorang pria yg mengajak saya untuk pacaran tapi saya menolak ny karena alasan tidk di perbolehkan dalam agama, tapi setelah berapa lama dia berpacaran dngn wanita lain, hati saya sakit ust. Bagaimana tanggepan nya ust??
    Lalu apa sebenarnya ada hukum karma yg di bilang teman² saya itu??
    Kemudian setelah saya mantap untuk tidak berpacaran bagaimana saya memberitahu teman² saya yg pacaran?? Saya takut ketika saya memberitahu mereka nanti saya di buly & dianggap sok suci atau apalah sama mereka.. terima kasih ust..

    • Alaikumussalam
      Knp skt hati? Pacaran emang banyak bohongnya.
      Hukum karma tidak ada. Dakwahkan dengan perbuatan anda..tidak pacaran no problem. Bs anda beritahukan melalui tulisan ini. Share dsb.