Iman Adalah …….

15 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Iman Adalah …….

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala Alihi wa Ashabihi Ajma’in. Amma ba’du,

Sudah lama sebenarnya kami ingin menulis sedikit pembahasan tentang masalah iman ini, terutama ketika masih ta’lim bersama guru kami Ustadz Aris Munandar hafidzahullah yang mengambil judul kitab Al Iman karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rohimahullah. Namun qodarullah kami belum jadi menuliskannya, namun beberapa saat yang lalu datang pertanyaan dari saudara kita ipoenk di blog www.alhijroh.com kami tentang masalah apa itu iman dan dalilnya. Maka setelah mendapat taufik dari Allah kami putuskan untuk menunda menjawab pertanyaan beliau dan menjadikannya sebuah tema tulisan tersendiri mudah-mudahan bermanfaat.

 

Tidak Jadi Beramal Yang Berpahala

10 May

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tidak Jadi Beramal Yang Berpahala

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala Alihi wa Ashabihi Ajma’in. Amma ba’du,

Masalah ini merupakan masalah lanjutan dari pembahasan kita yang telah lalu yaitu kaidah penting seputar niat. Pembahasan ini merupakan sebuah penjelasan singkat dari sebuah hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh ‘Abdullah bin ‘Abbas Rodhiyallah ‘Anhuma yang merupakan salah satu hadits Qudsi,

 إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْحَسَنَاتِ وَالسَّيِّئَاتِ ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيرَةٍ وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا كَتَبَهَا اللَّهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً وَإِنْ هَمَّ بِهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهَا اللَّهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً

“Sesungguhnya Allah telah menetapkan (terjadinya dan pahala atas) kebaikan dan (terjadinya dan dosa atas) keburukan lalu menjelaskan hal itu. Maka barangsiapa yang memiliki himmah/azam untuk melakukan kebaikan namun tidak mengamalkannya maka Allah telah menetapkan baginya sebuah kebaikan/pahala yang sempurna. Apabila dia memiliki himmah/azam dan dia melaksanakannya maka baginya 10 kebaikan/pahala hingga 700 bahkan hingga kelipatan yang banyak. Apabila dia memiliki himmah/azam untuk melakukan keburukan namun tidak jadi melakukannya maka Allah menetapkan sebuah pahala/kebaikan yang sempurna untuknya. Apabila dia memiliki himmah/azam dan ia melakukannya maka baginya sebuah keburukan/dosa[1]

Tafsir Surat Al Kahfi (3)

26 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (3)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.

[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 6]

Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

 فَلَعَلَّكَ بَاخِعٌ نَفْسَكَ عَلَى آَثَارِهِمْ إِنْ لَمْ يُؤْمِنُوا بِهَذَا الْحَدِيثِ أَسَفًا (6)

“Maka barangkali kamu akan membunuh/membinasakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, sekiranya mereka tidak beriman kepada keterangan ini (Al-Quran)”.  (QS. Al Kahfi [18] : 6)

Kaidah Penting Seputar Niat

18 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Kaidah Penting Seputar Niat

Alhamdulillah wa Sholatu wa Salamu ‘ala Rosulillah wa ‘ala Alihi wa Ashabihi Ajma’in. Amma ba’du,

Masalah niat adalah masalah yang sering kita perbincangkan, karea ia adalah masalah yang sangat pokok dalam agama kita. Dengan niatlah sebuah amalan dapat menjadi amalan yang pahalanya dapat sebesar Gunung Uhud dan demikian pula sebaliknya sebuah amalan yang bernilai pahala sebesar Gunung Uhud dapat menjadi amalan yang tidak bernilai pahala sedikitpun bahkan dapat membinasakan pelakunya.

Masalah yang paling sering dibahas yang berhubungan dengan niat adalah bagaimana suatu hal yang mubah dapat menjadi bernilai pahala di sisi Allah ‘Azza wa Jalla. Untuk itulah pada kesempatan kali ini kami ketengahkan pembahasan dari kalam ulama dalam masalah ini.

Tafsir Surat Al Kahfi (2)

12 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (2)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.
Pada edisi kali ini kita akan melanjutkan pembahasan edisi sebelumnya.
[Tafsir Surat Al Kahfi ayat 4-5]
Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَيُنْذِرَ الَّذِينَ قَالُوا اتَّخَذَ اللَّهُ وَلَدًا (4) مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ وَلَا لِآَبَائِهِمْ كَبُرَتْ كَلِمَةً تَخْرُجُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ إِنْ يَقُولُونَ إِلَّا كَذِبًا (5)
Dan untuk memperingatkan kepada orang-orang yang berkata, “Allah mengambil seorang anak”. Mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang hal itu, begitu pula nenek moyang mereka. Alangkah buruknya kata-kata yang keluar dari mulut mereka. Mereka tidak mengatakan (sesuatu) kecuali dusta.  (QS. Al Kahfi [18] : 4-5)

Jangan Jadi Penerus Kaum Jahiliyah

9 Apr

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Jangan Jadi Penerus Kaum Jahiliyah

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah memilih  bagi NabiNya Sahabat-sahabat yang mulia. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

[Pengertian Jahiliyah]

Yang dimaksud dengan jahiliyah adalah sesuatu yang dinisbatkan dengan kebodohan/tidak adanya ilmu, yaitu tidak adanya ilmu dari Rosul dan Kitab Suci. Secara khusus yang dimaksud dengan jaman jahiliyah adalah masa dimana sebelum diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Allah Subhana wa Ta’ala berfirman,

وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى

“Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu”. (QS. Al Ahzab [33] : 33)

Maksud jahilyah yang dulu dalam ayat ini adalah sebelum diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam karena sebelum diutusnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ilmu yang ada telah bercampur dengan kesesatan dan penyimpangan. Karena risalah Nabi yang sebelumnya telah tercampur baur dan rusak. Orang Yahudi pun telah mengubah syari’atnya dan mereka memasukkan banyak hal yang merupakan kekafiran dan kesesatan. Demikian juga Nasrani mereka mengubah Injil dari sebagaimana yang diturunkan ketika pada zaman Nabi Isa ‘Alaihissalam[1].

Tafsir Surat Al Kahfi (1)

29 Mar

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

Tafsir Surat Al Kahfi (1)

Segala puji yang disertai pengagungan seagung-agungnya hanya milik Allah Subhanahu wa Ta’ala dan perendahan diri kita yang serendah-rendahnyanya hanya kita berikan kepadaNya Robbul ‘Alamin yang telah menurunkan Al Qur’an sebagai petunjuk. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi was sallam, istri-istri Beliau, Keluarganya, para Sahabatnya dan ummat Beliau yang senantiasa meniti jalannya dengan baik hingga hari kiamat.

Pada edisi kali ini kami akan mencoba Insya Allah untuk menyajikan tafsir surat Al Kahfi pada setiap hari kamis sehingga ketika kita membacanya di hari Jum’at lebih bisa mendapatkan manfaat dan mudah-mudahan termasuk dalam hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam,

مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِى يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْن

“Barangsiapa yang membaca surat Al Kahfi di hari Jum’at maka ia akan mendapatkan cahaya diantara dua Jum’at”[1].

Surat Al Kahfi merupakan surat yang termasuk golongan surat Makkiyah. Walaupun sebagian ulama ahli tafsir mengecualikan sebagaian ayat-ayatnya. Diantaranya ayat 1-8, 28, 107-110 merupakan golongan surat Madaniyah. Akan tetapi pengecualian ini membutuhkan dalil khusus untuk menunjukkan hal itu. Sedangkan hukum asalnya surat golongan Makkiyyah merupakan surat Makkiyah seluruhnya, surat golongan Madaniyah termasuk golongan surat Madaniyah seluruhnya. Sehingga jika anda berpendapat adanya pengecualian sebagaimana pendapat di atas maka dibutuhkan dalil yang menunjukkannya.

Adapun surat Makkiyah adalah surat yang turun sebelum hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ke Madinah. Sedangkan surat Madaniyah adalah surat yang turun setelah hijrahnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam ke Madinah walaupun turunnya bukan di kota madinah semisal firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Pada hari ini telah aku sempurnakan agama kalian dan telah aku ridhoi islam sebagai agama bagi kalian”. (QS. Al Maidah [5] : 3)

Ayat ini turun di Arofah tahun dimana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam melaksanakan hajji wada’ (haji perpisahan).